Menembus Batas Imajiner di Tengah Isu Kesetaraan Gender dan Rasisme - Review Film Hidden Figures

Hai, Ibupreneur! Di jaman yang sudah maju dan serba canggih seperti saat ini, rasanya tidak ada batas bagi wanita untuk mengekspresikan diri. Wanita bebas memilih jalan mana yang dia inginkan, bebas belajar apapun, dan bebas mengemukakan pandangannya. Kebayang ga sih, bagaimana hidup wanita di era terdahulu? Dimana segala sesuatunya masih disetir oleh masyarakat luar? Nah, Ibu akan menemukannya di film Hidden Figures yang akan saya review setelah ini!

Hidden Figures merupakan film Hollywood besutan sutradara Theodore Melfi yang diluncurkan pada tahun 2016. Film yang diangkat dari novel non-fiksi tahun 2016 karya Margot Lee Shetterly dengan judul yang sama ini menceritakan tentang lika-liku perjuangan wanita minoritas dalam meraih mimpinya. Cerita ini merupakan kisah nyata dari Katherine Goble, Dorothy Vaughan, dan Mary Jackson yang bekerja sebagai karyawan di badan antariksa Amerika, NASA, dan berjuang mewujudkan mimpinya di tengah isu kesetaraan gender dan tekanan rasisme kulit hitam Amerika pada tahun 1960an.

Cerita dimulai dengan Katherine, Dorothy, dan Mary yang menghadapi permasalahan di tempat kerja mereka di NASA. Meskipun jenius dan cakap dalam pekerjaan, namun mereka selalu kalah dengan rekan kerja lainnya karena mereka adalah seorang wanita dan berkulit hitam. Di sini, penulis dan sutradara berhasil menunjukkan bagaimana frustasinya seorang minoritas yang dipandang sebelah mata. Tidak hanya diremehkan oleh rekan kerja, bahkan keluarga terdekat sekalipun tidak memberikan dukungan seperti yang terjadi kepada Levi Jackson, yang menentang impian istrinya, Mary, untuk mendaftar sebagai engineer NASA hanya karena ia tidak yakin bahwa kaum minoritas seperti mereka dapat meraih mimpi. Hal yang sama terjadi pada Katherine Goble, seorang single mom yang harus bekerja hingga larut malam untuk membiayai 3 orang putrinya. Karena kepintarannya di bidang matematika, Katherine yang semula ditugaskan di West Computing Office akhirnya mendapatkan posisi sementara di Space Task Group yang saat itu sedang fokus dalam proyek peluncuran roket. Keahliannya di analisis geometri pada awalnya diremehkan oleh rekannya di Space Task Group, termasuk Paul Stafford yang merupakan head engineer.

“And yes, they let women do things at NASA and not because we wear skirts, but because we wear glasses!” - Katherine Goble

Dengan isu rasisme pada kulit hitam yang saat itu heboh di Amerika Serikat, Katherine pun tidak luput dari tindakan-tindakan rasis yang dilakukan orang di sekitarnya seperti saat rekan kerjanya diam-diam memisahkan tempat minum karena tidak mau dan jijik jika harus minum dari tempat yang sama dengan Katherine. Dorothy yang di cerita awal ditolak menjadi supervisor karena ia berkulit hitam pun mengalami hal yang serupa ketika ia berkunjung ke perpustakaan publik di kotanya. Dorothy yang mengajak kedua putranya untuk membaca buku tentang teknologi terbaru sampai diusir oleh pihak keamanan karena mereka membaca buku di perpustakaan yang diperuntukkan untuk warga kulit putih.

KEEP BEING STRONG & UPGRADE YOURSELF
Salah satu hal yang saya suka dari film ini adalah bagaimana tiga tokoh utama tidak sekalipun gentar dan tetap terus maju meraih impian meskipun mereka berada di kondisi yang serba susah dan tidak menguntungkan. Katherine yang awalnya diremehkan, tetap mengerjakan tugasnya dengan benar meskipun Stafford terus-terusan menghalangi. Mary yang gagal dalam seleksi menjadi engineer hanya karena masalah administrasi pendidikan, akhirnya mengambil jalan cukup ekstrim dengan mengajukan sidang ke pengadilan setempat. Pun Dorothy yang terus-terusan dihalangi untuk naik jabatan, akhirnya memilih untuk mengupgrade diri belajar tentang teknologi Fortran dan berhasil mengoperasikan mesin penghitung IBM dimana pada saat itu tidak ada karyawan NASA yang mengerti bagaimana cara menjalankannya. Semangat, tekad, dan kerja keras tiga tokoh wanita di film ini secara tidak langsung menampar halus kita sebagai sesama wanita. Terkadang kita terlalu terlena berada di zona nyaman sehingga selalu mencari-cari alasan untuk tidak bertumbuh. Padahal, dengan berbagai teknologi dan kemudahan yang ada saat ini, anything is possible.

“There’s only one thing to do: Learn all we can.” - Dorothy Vaughan

TAHU APA YANG DIINGINKAN DAN BERJUANG HINGGA AKHIR
Dari semua hal yang diceritakan dalam film Hidden Figures, hal yang paling menarik perhatian saya adalah bagaimana wanita-wanita super ini tahu secara pasti apa yang mereka inginkan. Mereka tidak sembarangan bermimpi hanya karena uang dan jabatan. Tentu, proses yang dilalui untuk mengetahui apa yang diinginkan pun tidak sebentar. Selama bertahun-tahun, Mary bersembunyi di balik rekan kerja pria meskipun ide-ide yang dia berikan untuk engineering team selalu brilian. Jika bukan karena dorongan team leadernya, Karl Zielinski, ia tidak akan nekad untuk mengejar impiannya menjadi engineer NASA.

Karl Zielinski: “And I’m a Polish Jew whose parents died in a Nazi prison camp. Now I’m standing beneath a spaceship that’s going to carry an astronaut to the stars. I think we can say we are living the impossible. Let me ask you, if you were a white male, would you wish to be an engineer?”
Mary Jackson: "I wouldn’t have to, I’d already be one.”

Dorothy tahu bahwa ia memiliki sense of leader dan mampu untuk menjadi supervisor. Meskipun permintaannya selalu ditolak, ia tidak menyerah dan terus mencari cara untuk upgrade diri sampai di satu titik sang atasan tahu bahwa hanya Dorothy lah satu-satunya yang layak untuk mengisi posisi tersebut. Katherine yang awalnya ragu karena ia diremehkan oleh pekerja lainnya, akhirnya berani mengemukakan pendapat dan menunjukkan kepandaiannya di hadapan bosnya. Hanya satu tujuan yang ingin Katherine capai, dapat mengirim John Glenn, astronot NASA, ke luar angkasa dengan roket!

IBU PUN BERHAK BAHAGIA!
Berbeda dengan dua temannya yang memiliki keluarga lengkap, Katherine yang seorang single mom hanya fokus ke keluarga dan pekerjaannya. Awalnya ia abai dengan kebahagiaannya sendiri dan lebih memilih untuk bertahan menjadi janda dan tenggelam dalam rutinitas pekerjaannya. Sampai suatu ketika muncullah Jim Johnson yang langsung tertarik dengan Katherine sejak pandangan pertama. Dengan dukungan dari ibu, anak, dan teman-temannya, akhrinya Katherine memutuskan untuk membuka hatinya dan memilih untuk menjadi bahagia dengan Jim di sisinya. Terkadang kita terlalu pusing memikirkan hal lain tanpa kita sadari bahwa kita pun berhak untuk egois dan bahagia.

Meskipun terkesan serius dengan banyaknya bahasa matematika dan sains, tapi film Hidden Figures benar-benar menyegarkan batin. Sebagai wanita yang sedang struggling mempertanyakan tujuan hidup setelah menjadi seorang ibu, film ini terasa sangat relatable. Katherine, Dorothy, dan Mary yang hidup di tengah isu rasisme, kesetaraan gender, dan budaya patriarki yang masih kental saat itu, berhasil menggebrak masyarakat dengan kemampuannya. Pepatah “the sky is the limit” nyatanya tidak berlaku bagi tiga wanita super ini karena mereka terbukti berhasil menembus luar angkasa. Jika Ibupreneur sedang merasa demotivasi, menonton Hidden Figures bisa membantu memicu semangat lagi. Yuk, kita terobos batas imajiner seperti trio wanita Hidden Figures!

4 Likes

Aku kebetulan udah nonton filmnya mba. Kebetulan Hidden figure ini film pertama yang bikin aku tau praktek rasisme di US. Bahkan di NASA yang (aku kira & expect) isinya orang-orang open mind, ilmuwan & logis bisa abai segitu jugak. Bagian favoritku waktu atasannya Katherine ngebongkar tulisan toilet di kantor - yaampun meweek bet disitu. Terima kasih reviewnya mba Debby, jd pingin nonton lagi :heart:

Wah makasih ya Bu Debby, insightfull sekali artikelnyaa :heart_eyes: