Metode dalam mengajarkan anak berbisnis

Yang pasangan suami-istri, sama-sama couplepreneur. Atau yang suami saja, merupakan pebisnis. Atau hanya ibunya saja, merupakan pebisnis. Mungkin terkadang pernah terfikir, untuk mengajarkan anak cara berbisnis. Atau melibatkan anak, dalam bisnis ayah dan ibunya. Ini beberapa metode yang saya tulis, mungkin Ibupreneur disini tertarik untuk mengikutinya.

Mengajarkan pentingnya uang, mengajarkan rasa syukur kepada anak dan menanamkan rasa berjuang pada anak untuk mendapatkan sesuatu, merupakan kedua hal yang sama pentingnya. Anak bergantung kepada orangtuanya, untuk memenuhi semua kebutuhannya. Apakah boleh, orangtua mengajarkan cara menabung kepada anaknya?. Sangat boleh, ingat ya ibu-ibu, anak adalah tanggungjawab orangtua di dunia dan nanti dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Gunakanlah cara mendidik yang bagus, supaya anak bisa mempunyai value, “oh seperti ini, rasanya berjuang mencari uang”. “Oh, kalau aku mempunyai uang, aku juga harus berbagi kepada yang membutuhkan.”
Membangun kebiasaan anak, untuk rajin menabung dan punya sifat berjuang dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Tentu, bukan hal yang instan ya ibu-ibu. Dibutuhkan komunikasi dan pengertian antara orangtua dan anak.

Mengajarkan tentang realita, kenyataan bahwa, tidak semua manusia di dunia ini, hanya mengalami kebahagiaan. Ceritakan kepada anak, tentang jatuh bangunnya ibu dalam mengembangkan bisnis, dalam mendapatkan modal, pernah ditipu orang untuk diajak kerjasama dalam membangun bisnis. Ceritakan tentang, bagaimana pentingnya dan cintanya ibu, dalam membangun bisnis saat ini. Ceritakan, bahwa bisnis yang sedang dijalankan saat ini, tidak mudah, tetapi ibu juga tidak menyerah.

Bertindak berdasarkan ide, jika ibu disini, ingin anak belajar berbisnis sejak kecil, coba libatkan anak, dalam bisnis ibu. Minta tolong, kepada anak untuk membantu bisnis ibu, tanyakan pada anak, ingin membantu pada bagian apa?. Tanyakan pada anak, apakah ingin mencoba memegang bidang lain? Tanyakan, tingkat kebahagiaan anak, apakah anak bahagia membantu ibu dalam berbisnis? apakah anak ada ide untuk mengembangkan bisnis ibu? apakah anak justru tertarik untuk mengembangkan bisnis lain?

Biarkan anak membuat kesalahan, saat anak-anak ingin dan mau membantu bisnis ibu. Jangan marahi anak, saat anak salah menghitung jumlah keuntungan hari ini, saat anak salah memasukkan resep kue, saat anak salah menghitung jumlah barang yang datang, saat anak salah mengirimkan alamat paket. Tidak dimarahi, bukan berarti tidak diingatkan ya bu, ingatkan bagaimana harusnya mengatur uang dalam bisnis, ingatkan bagaimana pentingnya pengecekan ulang dalam mengirim barang. Memang kita harus mempunyai stok sabar yang luas ya bu, karena kita menjalankan dua peran sekaligus, yaitu mengembangkan bisnis dan mengajarkan anak cara berbisnis.

Menggali potensi anak, yang namanya anak, kita sebagai ibu, memang harus memaklumi, jika anak-anak kita mempunyai cita-cita yang berubah-rubah. Sering cerita, tentang banyak keinginannya dalam membangun bisnis. Hingga mungkin, kita sebagai orangtua, pernah berkata dalam hati. “Apakah mungkin hal setinggi itu, bisa terwujud? “apakah mungkin, cerita cita-cita anakku yang masih sangat abstrak, bisa menjadi kenyataan?” ibu bisa, menggali potensi anak, menggali potensi berbeda dengan memaksakan kehendak ibu, bahwa anak harus berbisnis ini dan itu. Anak adalah anugerah, yang masing-masing dari mereka, dianugerahi bakat, kemauan, dan kemampuan yang berbeda-beda. Ibu bisa mencoba, mengembangkan bakat berbisnis anak, melihat dari bidang yang diminati anak, apakah itu membuat kue kering, kue basah, menjual baju, menjahit, menjual mainan anak.

2 Likes