Perempuan adalah Subjek, bukan Objek

Sister Fillah, You Will never be alone. Buku yang sampulnya bernuansa ungu dengan ilustrasi yang ciamik ini adalah edisi diperkaya daripada edisi sebelumnya. Buku terbitan Mizan, Cetakan 1 tahun 2022. Buku yang ditulis oleh Kalis Mardiasih ini adalah kumpulan catatan atas apa yang pernah ditemui dalam kehidupan sehari-harinya.

buku kalis

Perempuan adalah salah satu jenis manusia yang hidup berdampingan dengan laki-laki. Segala ragam kehidupannya dari A sampai Z memang selalu hangat untuk diperbincangkan. Maka dari itu, topik-topik yang diangkat juga tidak jauh dari kehidupan sekitar penulis. Perempuan yang secara biologis mempunyai pengalaman akan menstruasi, hamil, melahirkan, nifas dan menyusui yang tidak bisa dibebankan kepada suaminya ini juga mempunyai pengalaman sosial yang harusnya bisa dicegah, yaitu stigmatisasi, marginalisasi, subordinasi, kekerasan dan beban ganda.

Perempuan yang distigmatisasi dengan manusia penuh keribetan, keribetan ini adalah dari segi dress up dan make up. Sehingga dianggap tidak pantas untuk menjadi pemimpin karena faktor keperempuanannya seperti dari sisi emosional. Ini menjadi rahasia umum, akan tetetapi kondisi ini tidak bisa diiyakan saja, alangkah lebih baiknya ada pertimbangan dari kemampuan yang dimiliki oleh anggota dalam sebuah organisasi atau komunitas tersebut.
Jika, si perempuan secara menejerial dan wawasan terkait dengan visi misi organisasi lebih baik daripada yang lain, mengapa tidak?. Terkait dengan jangkauan yang tidak seluas laki-laki, bukankah sebuah organisasi atau komunitas adalah sebuah perkumpulan lebih dari dua orang. Dengan itu, roda organisasi atau komunitas dapat dikerjakan dengan kolektif kolegial.

Perempuan yang dianggap satu tingkat lebih rendah, dan tidak layak mendapat Pendidikan yang sama. Saat ini sudah banyak perempuan yang sekolah sampai S3 dan mendapat gelar profesor atau bahkan sekolah keluar Negeri, akan tetetapi kenyataannya di Masyarakat kondisi seperti ini masih ada anak perempuan yang sudah jelas lebih pandai saat sekolah dinomer duakan dengan saudaranya yang laki-laki, karena anak perempuan setelah menikah akan mendapat penghidupan dari suaminya jadi tidak perlu lelah-lelah mencari ilmu dan pundi-pundi rupiah.

WhatsApp Image 2022-11-23 at 18.33.48

Persoalan nafkah memang itu hak istri, akan tetetapi jika kita lihat pada aspek yang lain bahwa sekolah tinggi bukan hanya persoalan mendapatkan uang yang banyak setelah lulus, akan tetetapi keutuhan menjadi manusia yang selalu berpikir dan belajar. Seorang perempuan yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga secara penuh meskipun selesai menuntaskan Pendidikan tingginya itu juga tidak salah. Banyak yang mencibir, “Sekolah tinggi-tinggi tetapi ijazah tidak berguna”, kalimat seperti ini juga yang sering terdengar.

Di buku kalis ini diceritakan dua perempuan yang mampu mendirikan sebuah sekolah. Pertama adalah Rangkayo Rahmah El-Yunusiyah, seorang perempuan yang mendirikan sekolah Diniyah Putri untuk mewadahi anak-anak perempuan agar mendapat kesempatan belajar, yang kemudian ditiru oleh Universitas Al-Azhar untuk mendirikan kulliyatul Banat. Dari situlah kemudian beliau menjadi perempuan pertama yang mendapat gelar Syaikhah dari Universitas Al-Azhar. Kedua adalah Dr. Dalia Fadila, seorang perempuan ras Arab yang menjadi pengajar pertama di Islamic Collage di Israel pada tahun 1990an, sedangkan pengajar yang lain adalah syaikh. Dr. Fadila Rahma kemudian mendirikan sekolah untuk mendidikan guru perempuan dengan nama Q-School yang artinya adalah Equality School.

WhatsApp Image 2022-11-23 at 18.34.05

Dari keseluruhan kondisi yang diceritakan oleh Kalis dalam bukunya ini, ada sebuah kesimpulan bahwa, Pertama, Perempuan butuh tempat untuk menyalurkan kemampuannya di segala bidang. Perempuan berhak sebagai full time Ibu rumah tangga, pembicara di seminar, koki, ahli parenting, praktisi Pendidikan, dokter, guru, petani, dan lainnya agar dunia ini bisa seimbang dengan pemikiran-pemikiran dari sudut pandang laki-laki atau perempun.

Anggapan bahwa perempuan adalah manusia lemah dan kurang akal juga bisa sedikit demi sedikit hilang, karena sejatinya akal manusia sama jika mempunyai ruang dan kesempatan yang sama karena takwanyalah yang berbeda dihadapan Allah Swt. Kedua, perempuan butuh support, karena semangat dari orag-orang terdekat bagaikan kobaran api yang bisa menyulut semangat. Terakhir, satu hal yang perlu diketahui, bahwa perempuan adalah Subjek kehidupan bukan objek.

4 Likes