QnA Mini-Bootcamp #JikaIbuMenjadi Freelance Writer

Hai Buibu!

Selamat datang di mini bootcamp #JikaIbuMenjadi Freelance Writer

Pada topik ini, silakan Buibu gunakan untuk upload challenge, bertanya ataupun berdiskusi seputar Freelance Writer

Selamat berproses Bu!! :heart:

4 Likes

Halo Ibu @nadiasarahw , saya sudah menyimak video Ibu, terima kasihh yaa banyak sekali insight yang saya dapatkan seputar freelance writer. Ada yang mau saya tanyakan atau request kepada Bu Nadia untuk dibahas lebih lanjut, yaitu tentang materi dari video ke 6 mengenai berbagai gaya bahasa. Sebetulnya ada berapa gaya bahasa kah yang perlu dikuasai ya Bu? Apa sajakah itu? Terima kasih sebelumnya…

Salam kenal ibu, saya winda. Sejujurnya saya masih sangat baru dan masih bingung cara menggunakan website rumii ini :sweat_smile: dapat challenge nya lihat dimana

Halo bu, mau nanya kn ibu nadia awalnya nulis di hipwee nanti saat qna boleh tutor sdikit tidak bu? Sy pengen nyoba tp msh bingung :pray:t2:

Halo Ibu, saya ingin bertanya…untuk content dan copy writing di media sosial terutama di instagram, apa saja hal yang harus diperhatikan? Seberapa besar peran hashtag (#) ? Dan bagaimana cara memilih dan menggunakan hashtag yg tepat? Karena saya sering lihat caption dengan hashtag yang panjaaaaanggg sekali :sweat_smile: apakah memang harus seperti itu bu?

Haii Bu Uni, untuk gaya bahasa, biasanya ada beberapa yang sering diminta. Seperti gaya bahasa resmi untuk konten yang “serius”, ada juga yang minta gaya casual, atau bisa juga semi casual. Biasanya disesuaikan dengan target pembacanya, bisa dari jenis pekerjaan, jenis kelamin, atau usianya. Semoga menjawab yaa

1 Like

Hai Buu, silakan nanti coba ditanyakan dulu saja ya Buu. Semoga waktunya masih cukup

Izin setor challenge ya, Bu @nadiasarahw :slight_smile:

Lika-liku Jadi Ibu

Photos. Albums. Favorites.

Tanganku terus bergerak naik, entah mencari foto apa. Ada puluhan foto selfie anak kecil, foto orang-orang tersayang, dan foto landscape; seluruh foto kesukaanku yang kujadikan satu. Tanganku terhenti di sebuah foto. Foto siluetku saat subuh di Mahameru, mengibarkan bendera merah putih dengan penuh rasa bangga. Di foto berikutnya, aku menggenggam erat plang bertuliskan “PUNCAK” sambil memakai toga. Aku perempuan, 23 tahun saat itu usiaku, berhasil memenuhi janji bersama teman-teman baikku untuk mendaki puncak tertinggi di Pulau Jawa selepas kami semua mendapat gelar sarjana. Saat itu aku begitu bangga: rasanya tidak ada yang tak bisa kugapai, tak ada yang tak bisa kuraih.

Aku letakkan gawaiku dan menatap lamat sekelilingku. LEGO kecil berserakan di lantai seperti menunggu waktunya untuk terinjak orang dewasa yang sudah seharian lelah beraktivitas. Cucian piring yang rasanya terus beranak pinak. Satu ember penuh cucian yang baru saja kuselesaikan dan menunggu aku jemur. Tumpukan setrikaan yang entah kapan akan aku kerjakan… dan di sisiku ada anak kecil yang terus merengek memintaku menemaninya bermain lebih lama. Aku hanya meminta waktu lima menit untuk ke kamar mandi tapi tak kunjung ia beri. Aku perempuan, 31 tahun usiaku. Saat ini aku merasa tidak berdaya: tak ada yang bisa kuselesaikan dengan baik, sekedar memenuhi kebutuhan dasarku pun rasanya sulit.

Sejak menjadi ibu, duniaku rasanya jungkir balik. Aku yang dulu hanya mementingkan diriku dan segala pencapaianku, kini menjadikan anak kecil ini sebagai poros hidupku. Hari ini dia makan apa, kami akan pergi kemana, apa saja aktivitasnya hari ini, apa saja yang perlu aku siapkan dan aku kerjakan. Begitu terus setiap harinya. Tidak dipungkiri, aku rindu sekali diriku yang dulu. Saat dimana aku bisa melangkah bebas, bisa bermimpi tinggi, dan bisa melangkah kemanapun yang aku mau.

Belum lagi kalau membandingkan diriku dengan teman-teman lain yang bisa melenggang bebas dan terus mencapai mimpi-mimpinya. Tentu pikiran ini tidak membawaku kemana-kemana selain hanya pada rasa iri dan tidak berharga. Aku jadi sering mempertanyakan kemampuanku:

“Kenapa aku ngga bisa sebebas itu ya?”

“Dia bisa, kenapa aku ngga bisa?”

“Kenapa rasanya aku disini-sini aja ya?”

Pertanyaan-pertanyaan overthinking yang tidak akan ada ujungnya ya :slight_smile:

Begitulah aku di titik terendahku sebagai seorang ibu. Tapi jauh di dalam sini, aku tau persis bahwa menjadi seorang ibu bukan berarti mimpi kita terhenti. Aku tetaplah diriku yang berharga, anak dari ayah dan ibuku yang membesarkanku dengan penuh cinta dan doa-doa baik yang tidak berakhir. Aku tetap diriku yang punya segenap kemampuan untuk menjadi diri yang lebih baik setiap harinya. Aku tetap bisa mencapai mimpiku, meski langkahnya perlu menjadi lebih perlahan, atau jalurnya melambung jauh, atau aku bahkan perlu mendaki lebih tinggi. Aku akan tetap bisa sampai di tujuan meski tantangannya menjadi lebih sulit dan ujiannya menjadi lebih banyak. Aku akan tetap sampai di garis finish meski mengambil banyak jeda karena langkahku tak hanya melulu tentang aku, tapi juga anak lelakiku dan keluarga kecilku.

Duniaku memang tidak lagi gemerlap dengan pujian dan tepuk tangan. Tapi hangat rasanya mengetahui bahwa setiap malam, ada lelaki kecil yang menjadikan pelukku sebagai rumah ternyamannya untuk tidur. Setiap hari, ada sosok yang mencariku untuk berkisah tentang apa saja. Setiap saat, ada anakku yang menjadikanku dunianya. Rasanya lebih dari cukup, aku tidak perlu apa-apa lagi. Seberat apapun hari esok, dengan izin-Nya dan semangat darimu, ibu akan mampu.

7 Likes

Hi bu, aku mau setor tugas ya hehehe maaf kelebihan 200 kata, terlalu enjoy nulisnya sampe tersedu-sedu huhu @nadiasarahw

Menjadi ibu…

Tumbuh di lingkungan dimana banyak ibu-ibu yang tetap berhasil meraih mimpinya setelah memiliki anak membuat aku percaya bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghambatku menggapai mimpi-mimpiku. Akhirnya aku memantapkan diri menikah di usia 20 tahun dengan berpegang teguh pada harapan bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghambatku menggapai mimpi.

Anak pertamaku lahir disaat aku memasuki semester 5 saat menempuh studi di sebuah universitas. Ada rasa haru, senang, bahagia, tapi juga ada perasaan sedih karena kehilangan sosok diriku yang dulu. Bahkan namaku kini sudah berubah, orang-orang lebih sering memanggilku ‘Mama Nanay’ dibanding ‘Ziah’.

Aku tinggal jauh dari keluargaku, merantau ke kota lain bersama suamiku. Kami hanya tinggal ber-3 saat itu dan perjalanan menjadi ibu ternyata tidaklah mudah. Terutama saat MPASI yang membuat aku kehabisan akal. Diantara segala kesulitan itu, perlahan aku mulai kehilangan diriku. Sering sekali aku bertanya, siapa aku? Apa yang aku suka? Apa hobiku?

Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba hobiku yang dulu, crocheting. Perlahan aku mulai merasa hidup, fokusku mulai kembali. Keadaan membaik dan kondisi anakku pun alhamdulillah cukup baik saat itu. Aku bahagia.

Tahun 2021, Allah mengirimku malaikat kecil lain. Saat itu aku kira aku tidak akan kehilangan diriku lagi, tapi ternyata aku mengalami hal yang sama. Aku mengalami kesulitan saat MPASI, bahkan lebih parah dibandingkan dengan anak pertamaku. Tidak jarang aku meledak, berteriak, menangis di depan anakku karena sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.

Awal tahun 2022, aku didiagnosa ’ Accute Stress Reaction’ oleh psikiater dan diminta untuk rutin melakukan meditasi. Sekitar bulan Mei 2022, aku kembali konsultasi dengan psikolog karena sering mengalami serangan panik tanpa sebab. Sedang cuci piring-pun serangan panik itu bisa datang, membuat detak jantung dan nafasku jadi lebih cepat, tanganku gemetar, dan aku sangat ketakutan seperti sedang dikejar-kejar.

Sekitar bulan Agustus 2022, ada 1 malam yang benar-benar aku ingat, malam yang sangat menegangkan. Saat itu, aku sedang mengukur berat badan dan tinggi badan anak-anakku dan baru sadar ternyata Z-score berat badan anak ke-2 ku sudah > -1. Disitu aku kaget, stress, marah, bingung, kok bisa ya aku membiarkan z-score anakku sampai > -1? Aku marah, kesal dengan diri sendiri. Aku tampar mukaku berkali-kali, aku jambak rambutku karena aku merasa aku bukan ibu yang baik dan pantas untuk dihukum. Dadaku sesak, aku merasa sudah tidak pantas lagi ada di dunia ini, aku merasa tidak layak menjadi ibu dari anak-anakku. Aku merasa mereka akan lebih bahagia tanpa aku. Keinginan menyakiti diri sendiri semakin tinggi, semakin malam aku semakin takut. Aku takut secara tidak sadar aku keluar kamar dan menyakiti diriku lebih parah lagi. Rasanya malam itu aku ingin mengikat badanku di tempat tidur karena aku benar-benar takut lepas kendali.

Aku mencoba menghubungi call center into the light, tapi ternyata layanan call center mereka sedang tutup. Akhirnya aku minta suamiku yang baru tiba di kantor untuk pulang ke rumah karena aku benar-benar butuh bantuan. Ketika suamiku datang, pelukannya seperti menarik diriku kembali ke dunia nyata. Aku mulai merasa lebih tenang walau pikiranku masih sibuk sekali.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk konsultasi dengan psikiater. Sesi konsultasiku berlangsung sekitar 1 jam dan tangisku pecah di ruangan konsultasi. Aku didiagnosa depresi sedang dengan kemungkinan bipolar dan harus minum obat antidepressant selama 1 bulan. Setelah minum obat, mood-ku berangsur-angsur membaik walau kadang ada saat dimana semua emosiku memuncak dan berkumpul menjadi satu. Sangat marah, sangat sedih, sangat kesal, rasa yang sangat tidak nyaman. Sebulan kemudian, aku kembali konsultasi dengan psikiater. Dokter bilang depresiku membaik, dan aku tidak mengidap bipolar melainkan ’ Adjustment Disorder’. Ternyata aku masih harus minum antideppresant selama 1 bulan kedepan.

Mood-ku memang berangsur membaik walaupun ada saat dimana ketika mendekati datang bulan, puncak emosi itu datang lagi. Biasanya saat sedang seperti ini suamiku mengingatkan aku untuk melakukan grounding. Alhamdulillah, suamiku sangat support aku dalam masa penyembuhanku karena suamiku meyakini bahwa aku ini sakit dan perlu diobati. Alhamdulillah saat ini sudah 1 bulan aku tidak minum antidepressant, walau kadang masih ada puncak-puncak emosi, tapi aku sekarang sudah lebih bisa mengendalikan diriku.

Dulu sebelum menikah, aku selalu melihat ibu-ibu yang sukses berkarya. Dulu aku meyakini bahwa menikah dan punya anak tidak akan menghalangiku atau menghambatku menggapai mimpi. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata ada ibu yang harus menunda mimpinya bahkan merelakan mimpinya demi membersamai anak-anak mereka dan ternyata akulah salah satunya. Saat ini, aku hanya berusaha meng-expose diriku dengan banyak hal. Ikut berbagai komunitas, course, mini bootcamp, untuk mengetahui kira-kira minatku dan kekuatanku ini ada dimana dengan harapan kedepannya aku bisa menggunakan kekuatanku untuk menggapai mimpiku yang tertunda.

Apakah aku bahagia? Aku bahagia bersama anak-anak dan keluargaku… tapi aku rindu dengan aku yang dulu. Aku yang dipanggil dengan namaku, aku yang dilihat orang sebagai diriku. Bukan sebagai aku istrinya si A atau karena aku ibunya si B. Aku rindu ketika orang-orang melihatku dengan value yang aku miliki.

Terimakasih @ibupunyamimpi sudah memberikan lingkungan yang nyaman untuk aku bertumbuh bersama dengan ibu-ibu yang lain.

7 Likes

Halo ibu2 punya mimpii…yuk kita bahas apa aja sih perubahan yg biasanya dirasakan setelah jadi ibu? Ini sebenarnya versi aku yang jadi ibu dari tahun 2015, sudah cukup lama ya hehe…tapi mungkin ibu2 ada yg relate dengan pengalamanku.

  1. Lebih sering lupa. Serius deh bu, setelah jadi ibu aku jadi sering banget lupa. Kadang aku berfikir kenapa ya setelah jadi ibu jadi sering lupa begini. Pastinya banyak faktor ya bu, bisa karena sekarang lebih banyak urusan yang harus kita pegang, kekurangan kalsium saat hamil, bisa juga karena faktor u (uups) :laughing:

  2. Gak gampang panik. Aku awal2 jadi ibu memang panikan, lihat anak jatuh langsung teriak dan gendong, lihat anak disuntik nangis. Setelah beberapa tahun jadi ibu, dan setelah banyak membaca teori parenting, bahwa ternyata anak membutuhkan sosok yg tenang dan stabil (yaitu kita orgtuanya), jadi sekarang sudah jauh lebih tenang dan gak panikan. Lihat anak jatuh ya dilihat aja dulu, kadang2 anaknya juga masih bisa ketawa2 lho🤣

  3. Lebih sensitif. Perubahan hormon saat hamil dan menyusui ternyata gak hanya menyebabkan perubahan di tubuh kita tapi juga bisa memengaruhi suasana hati kita. Makanya setelah jadi ibu tuh kadang gampang sedih, denger komentar orang bisa nangis, padahal sebelum jadi ibu, kita anggap biasa saja.

  4. Lebih menghargai hal-hal kecil. Yang tadinya kita kira kegiatan seperti mandi dan makan dengan tenang adalah hal yg biasa, setelah jadi ibu, waah itu nikmat tiada tara ya ibu2. Dulu self care kita mungkin pergi ke salon, window shopping di mall, kalau sekarang, bisa mandi cuci muka dan window shopping di supermarket sudah bahagiaaa😊

  5. Lebih bijaksana. Kalau dulu terganggu ketika ada anak nangis dan teriak2 di tempat umum, sekarang merasa lebih mengerti dan justru berempati pada ibunya. Dalam hal finansial juga lebih bijaksana. Sekarang sudah lebih bisa membedakan mana keinginan dan kebutuhan, dan lebih bisa mengerem keinginan untuk langsung membeli barang, karena ingat ada kebutuhan lain yg lebih penting, atau bisa juga karena belum tentu barang yg ingin dibeli itu memang benar-benar dibutuhkan.

Meskipun ada saatnya perjalanan jadi ibu itu sakit, membingungkan, dan capek, tapi ada juga saat saat menyenangkan dan yang gak pernah bisa kita bayangkan sebelumnya. Semoga kita bisa terus kuat dan bahagia dalam memaknai perjalanan menjadi ibu ya ibu2 punya mimpi :slight_smile:

4 Likes

halo ibu-ibu, aku izin post challeng ya bu :blush:

far beyond perfect

tidak pernah terpikir olehku, kalau menjadi ibu, berarti dunia tentang diriku melambat putaran hidupnya. dari yang awalnya berprogres dalam karir dan mimpiku di hidup ini, menjadi harus menunda semua keinginanku. dari mulai waktu dan tabungan yang bergeser peruntukannya. bukan lagi tentang diriku.

dari yang bebas menentukan jadwal weekendku, jadwal makanku, apa yang kumakan, hingga sekarang harus mempertimbangkan semua gizi dan kalori dari masakanku, tv dan gadget yang tidak bisa sembarang waktu dinyalakan, dan tempat apa yang lingkungannya kids-friendly untuk dikunjungi saat weekend, tidak hanya sekedar aesthetic.

ribet ya? lalu? apa bagusnya jadi ibu?

aku memiliki malaikat kecil yang sangat berharga dari Allah. terdengar klise? tapi, satu kalimat itu adalah rangkuman dari segala hal tentang apa yang membuatku senang menjadi ibu.

di hari lahir anakku, lahir pula aku yang baru. sebagai ibu. baby blues dan segala kebingungan aku lalui di hari-hari awalku. kesulitan untuk mengasihi pun aku rasakan. setelah semua itu selesai, datang tantangan memberi makan pada anak. bukan hanya sekedar makanan apa, tapi bonding dengan anak dan mengenalkan cara makan yang baik. rumah yang selalu berantakan, belum lagi urusan tumbuh kembang anak yang tak pernah kunjung selesai. Informasinya beredar terlalu massive di social media. membuatku selalu merasa salah dan kurang sebagai seorang ibu.

di sela sela keluh kesahku, aku memiliki suami yang sangat hebat. support system nomor satuku. pria yang memegang teguh janjinya bahwa anak kami dan aku selalu menjadi prioritasnya.

kalau malaikat kecilku tidak datang, mungkin aku tidak dapat mengetahui bahwa suamiku adalah sosok ayah dan suami yang hebat. kagum dan cintaku pada suami, bertambah saat anakku lahir kedunia ini.

setelah aku menjadi ibu, aku merasa hidupku yang dulu adalah sebuah anugerah. kebebasan dan segala rezeki juga kemudahan dari Allah yang tadinya tidak terasa, jadi sangat berharga sekarang. dulu aku lupa bersyukur atas hal kecil yang ternyata besar itu.

setelah aku merasa bersyukur dan belajar menerima semuanya dengan ikhlas, aku menjadi bisa memulai semua mimpiku yang tertunda lagi. mimpi yang sama dengan pace yang berbeda. langkahku tidak bisa secepat sebelum aku menjadi ibu, tapi semangat ku masih sama.

jadi ibu bukanlah hal yang mudah, tapi bukan juga sesuatu yang menyeramkan. pasalnya, jadi seorang ibu atau tidak, masalah akan tetap datang pada diri kita. tidak ada yang lebih berat atau ringan, kita hanya sedang berusaha melakukan yang terbaik di takdir hidup kita yang diberikan oleh Allah. dan percayalah, Allah tidak akan membebani makhluk-Nya diluar kemampuan kita.

aku akan terus menggapai mimpiku sebagai ibu dan sebagai diriku. agar anakku, memiliki ibu yang seutuhnya mencintai dirinya sendiri. agar anakku dapat memiliki ibu yang bahagia dan merasa bersyukur atas hidupnya. agar aku dapat menjadi sekolah dan inspirasi yang baik untuk anakku.

aku makin mencintai diriku karena bisa melewati semuanya hingga titik ini. belum tentu baik, jauh dari kata sempurna. but i’m alive, and i feel grateful for what i am now.

terimakasih ibu punya mimpi, telah hadir menemaniku menggapai mimpi kembali :blush:

@nadiasarahw

2 Likes

Halo, aku Uli, seorang Ibu dua orang anak, anak pertama usianya 2,5 tahun dan anak kedua baru berusia 5 bulan, merantau dari Padang ke Bekasi, jauh dari jangkauan orang tua, tanpa ART, membuatku harus punya effort lebih untuk mengurus diriku sendiri.

Sejak menjadi Ibu, 26 daftar pekerjaan rumah harus dilakukan setiap harinya. Pekerjaan ini nyaris menghabiskan setengah hariku untuk benar-benar diselesaikan. Tak jarang pekerjaan yang tidak ada habisnya ini seringkali membuatku terjebak di puncak lelah. 22 Oktober 2022, rasanya lelahku sudah benar-benar di titik nadir. Beban pikiran dan perasaan sudah tidak bisa aku bendung sendiri. Aku ingin menumpahkannya. Berusaha memanjangkan sajadah. Mengadu ke Sang Maha Penenang Hati. Tapi tetap saja, aku makhluk sosial, butuh manusia lain yang bisa merespon langsung kegetiran ini.

Aku ingin bercerita bebas, tanpa bias, tanpa “batas”. Sebenarnya sedikit terbebani dengan statusku yang menjadi lulusan psikologi, seringkali ingin menumpahkan pikiran dan perasaan dengan “mereka yang ku anggap tepat”, tapi respon yang aku dapatkan malah semakin menekan, “ha? masa anak psikologi ngeluh kayak gini?” Seolah-olah anak psikologi bukan manusia seutuhnya, mereka manusia sempurna tanpa keluhan, tanpa butuh manusia lain. Dipaksa untuk terlihat sempurna.

Nyatanya, aku masih manusia biasa. Bisa lelah, ngeluh dan terluka. Aku juga butuh manusia lain untuk menunjukkan kemana seharusnya jalan benar yang harus aku pilih, karna rasa lelah seringkali menyamarkan persimpangannya.

Aku memutuskan untuk ikut sesi konseling bersama Psikolog pilihanku hari itu. Syukurlah aku hanya mengalami gejala burnout, yang menurut beliau memang wajar dan sering kali terjadi pada seorang Ibu Rumah Tangga.

Burnout adalah keadaan lelah secara emosional, fisik dan mental akibat stres berkepanjangan yang tidak berhasil dikelola dengan baik (Ciampi, 2019). Fenomena ini ditandai oleh adanya perasaan tertekan, amarah, hilangnya gairah atau semangat dalam melakukan suatu pekerjaan, serta menarik diri dari interaksi sosial dengan orang-orang terdekat (McCormack dan Cotter, 2013).

Kita mengobrol layaknya teman yang sudah lama kenal. Hingga aku tersadar bahwa, sebenarnya semenjak menjadi Ibu, aku seringkali merasa kesepian, aku hanya butuh di dengarkan seperti ini. Aku juga menyadari bahwa semenjak menjadi Ibu, prioritasku berubah ke anak-anak dan suami. Aku lupa, ada satu orang yang juga patut di prioritaskan, ya dia adalah aku.

Terima kasih aku, sudah menyadari kekeliruanmu selama ini. Anak-anak dan suami memang penting. Tapi dirimu juga jauh lebih penting.

Adalah benar perkataan pramugari yang memperagakan masker oksigen dan memberitahu kepada setiap orang bahwa “pakai masker oksigen kita sendiri sebelum menolong orang lain”. Bukan, ini bukan bentuk keegoisan. Ini bentuk cintamu pada dirimu sendiri. Sebelum menyenangkan orang lain, ada dirimu yang harus kamu senangi. Sebelum mencintai orang lain, ada dirimu yang patut kamu cintai.

Satu hal yang aku highlight dari sesi konseling hari itu adalah, take your time, Bu. Upayakan di setiap harinya untuk membiasakan diri mencintai dirimu sendiri sebanyak kamu mencintai orang lain. Pasang masker oksigenmu terlebih dulu, maka setiap orang di sekelilingmu juga akan lebih mudah untuk bernapas.

5 November 2022
-Yuli Rahmi-

mentored by @nadiasarahw

2 Likes

Izin setor challenge ya, Bu :white_heart:.


Tidak ada yang bilang, jadi ibu akan seperti ini!

Saat janin masih ada di dalam kandungan, Ibu menyediakan tempat yang paling nyaman untuk (calon) anakmu bertumbuh dan berkembang. Meski di saat yang sama, dirimu harus menahan ketidaknyamanan dan penderitaan. Sebut saja: mual, muntah, sulit tidur, sulit bergerak, kaki bengkak, kulit kering, napas pendek, pegal. Segala pengorbanan ini Ibu berikan untuk sosok yang belum pernah ditemui sama sekali.

Tanyamu, “Mengapa tidak ada yang bilang, jadi ibu akan semenderita ini?”

Proses melahirkan yang berteman akrab dengan rasa sakit luar biasa—walau ada yang berusaha membuat afirmasi positif dengan menyebutnya gelombang cinta—menjadi gerbang perjumpaan Ibu dengan bayi yang dinanti. Ah, semua memori “perjuangan” selama sembilan bukan seketika lenyap, terganti oleh rasa cinta yang meluap. Bayi mungil diletakkan di dada. Tubuh hangatnya, mungil tangannya, indah wajahnya, semuanya sempurna.

Ujarmu, “Tidak ada yang bilang, menjadi ibu akan sebahagia ini!”

Namun, hari-hari pertama begitu panjang. Tangis bayi yang tak kunjung reda membuat Ibu kebingungan. Apa yang dia rasakan? Kelaparan, kedinginan, kepanasan, kebasahan, kesakitan? Saat semua sudah dilakukan, rasanya masih saja ada yang kurang.

Hari demi hari sang bayi tumbuh. Ibu merawatnya sepenuh kasih. Di balik senyum tawanya, ada kegelisahan tak berujung. Apakah Ibu sudah memberikan yang terbaik? Grafik pertumbuhan selalu dicek. Saat anak sakit, dokter terbaik yang dipilih. Baju, mainan, makanan, sebisa mungkin yang paling bagus kualitasnya. Segala ingin diberikan untuk anak. Ibu menjadi nomor dua. Bapak? Oh, hampir lupa!

Sampai akhirnya, Ibu merasa kehilangan diri. Dulu Ibu pernah begini dan begitu, menjadi ini dan itu, ingin ke sini dan ke situ. Sekarang, memori dan mimpi itu tinggal kenangan yang pahit saat diingat. Kenyataan yang ada di hadapan adalah anak dan anak dan anak dan … anak? Pokoknya, serba anak: kebutuhan anak, kebahagiaan anak, keberhasilan anak.

Halo, Ibu! Apa kabar dirimu hari ini? Tidak ada yang bertanya seperti itu kepadamu. Ibu kesepian! Ibu merasa tidak ada yang benar-benar mengerti perasaanmu, tidak pula suamimu. Ibu berjuang sendiri mengatasi kekecewaan diri. Menurutmu, I’m not good enough, as a parent, as a mother, as a woman.

Teriakmu, “Mengapa tidak ada yang bilang, jadi ibu akan sesukar ini?”

Lewat tangan-tangan mulia, Tuhanmu hadir membuka jalan. Perlahan Ibu mulai mendapatkan cahaya. Ibu tidak sendirian, lo! Ibu berdaya, lo! Mimpi ibu tidak sirna, lo! Ibu hanya perlu menata mimpi dan membuat mimpi baru. Dunia memang tak lagi sama, tetapi dia tak kalah indahnya dengan yang dulu Ibu punya.

Kebahagiaan Ibu adalah modal utama kebahagiaan keluarga. Tak usah berharap anak bahagia jika yang ditemuinya setiap hari adalah wajah kusut ibunya. Maka, tersenyumlah, Ibu. Carilah kebahagiaanmu. Buatlah mimpi baru. Gapailah dengan penuh asa hingga anakmu bisa meneladani semangatmu. Mereka akan melihatmu tumbuh bersama dengan suka cita.

Jadikan dirimu mampu untuk berkata dengan berseri-seri, “Tidak ada yang bilang, jadi ibu akan sebersyukur ini! Aku menemukan diriku, justru setelah menjadi ibu.”

Buatlah Tuhanmu ridha dengan jalan hidupmu, ya, Bu, sebagaimana Ibu ridha dengan rencana-Nya.

Tulisan ini kupersembahkan untuk semua ibu yang sedang dan selalu berproses menjadi versi dirinya yang terbaik.


Terima kasih untuk Ibu Punya Mimpi dan Ibu @nadiasarahw untuk kesempatan curhat lewat challenge-nya.

2 Likes

Bu, izin setor challange ya hehe

Begini ya menjadi ibu

Kukira menjadi ibu, hanyalah berganti nama dan panggilan. Kukira hanya berganti status, awalnya istri sekarang bertambah menjadi ibu. Tak pernah terbayang olehku betapa rumitnya menjadi ibu. Sebentar, biar aku jelaskan mengapa rumit. Menjadi ibu ternyata tidak lagi tentang aku, tidak lagi tentang hidupku, tidak lagi tentang mimpi-mimpiku yang dulu. Menjadi ibu ternyata membawaku ke dalam suasana dimana aku harus mendahulukan buah hatiku, suamiku bahkan keluargaku, Sadar atau tidak. Tidak mudah memang. Butuh waktu adaptasi yang bahkan tidak sebentar, mungkin sampai sekarang dan akan terus selamanya selama masih menjadi ibu.

Mungkin yang terkadang aku sesali, aku tidak menyiapkannya dengan baik. Ya, kufikir semua akan berjalan mudah. Kufikir nanti juga akan siap, nanti juga akan bisa. Iya, memang. Tapi tanpa matangnya kesiapan, membuatku gelagapan. Luka-luka lama di masa lalu, perlahan muncul tanpa kusadari. Luka yang dulu berusaha aku lupakan, berusaha untuk aku pendam. Sampai aku pun bingung, siapa aku ini? Kenapa aku ini? Pelan-pelan aku menelusuri akarnya dan berusaha mencari jawaban karena aku tak ingin terus membawa akibat luka ini kepada buah hatiku dan suamiku. Aku ingin membereskan luka-luka ini. Alhamdulillah, Allah memberi jalan. Melalui seorang professional aku dibantu pelan – pelan menapaki setiap goresan yang aku lalui di masa lalu. Pelan – pelan aku mencoba melepaskan segala luka itu, sedikit demi sedikit agar tak ada lagi yang sakit.

Ternyata menjadi seorang ibu harus berdamai dengan diri sendiri dulu, harus memaafkan segala sakit di masa lalu. Agar bisa lebih memaknai betul peran sebagai ibu. Terkadang aku menyesal, kenapa aku tidak sadar sebelumnya akan lukaku. Namun, aku juga bersyukur mungkin kalau tidak menjadi ibu, aku tidak akan pernah tahu betapa terluka nya aku. Lalu, aku makin bersyukur ketika bisa melewati setiap detik berharga. Setiap detik perubahan yang aku buat, setiap detik proses bertumbuhku bersama buah hati dan suamiku. Sesuai dengan janji-Nya, bahwa di setiap kesulitan akan ada kemudahan, pun denganku, di setiap kerumitan akan ada hal yang bisa disyukuri.

Teruntuk suamiku, terimakasih ya udah menemani proses belajarku, udah menemani fase sulit dalam hidupku. Maafkan aku, belum menjadi istri yang baik untukmu. Aku akan terus belajar, pelan-pelan, untuk terus menjadi baik. Dan untuk buah hatiku, Nak, terima kasih ya sudah hadir di hidup ibu. Sudah memilih aku menjadi ibumu. Bahkan ibu sering malu dengan diri ibu sendiri namun kamu tetap menyayangi ibu. Maaf ya Nak, ibu masih banyak kurangnya. Masih harus terus belajar menjadi ibu, menjadi orang tua yang baik untukmu. Kita belajar bersama ya sayang untuk mencari tahu makna hidup yang sebenarnya agar bisa menggapai surgaNya. Aku menyayangi kalian dengan segenap hatiku, suamiku dan buah hatiku.

1 Like

Kemampuan Baru Setelah Menjadi Ibu

Bagi saya pribadi perjalanan adaptasi menjadi seorang ibu tidak mudah. Banyak sekali lika–liku kesulitan yang saya hadapi dalam perjalanannya. Terkadang perjalanan ini juga membuat saya merasa kesepian. Setelah sekian lama menjalani peran menjadi ibu, ada beberapa kemampuan yang telah saya pelajari.

  1. Kemampuan merelakan.
    Selama menjadi seorang ibu saya belajar bahwa ada hal-hal yang tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana saya. Saya belajar bahwa ada beberapa ekspektasi dan cita-cita yang tidak bisa dicapai secepat saat belum punya anak. Ada juga cita-cita yang harus direlakan untuk tidak tercapai. Saya belajar untuk berjalan pelan agar tidak tersakiti dengan ekspektasi.

  2. Kemampuan memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri.
    Saya belajar bahwa diri saya adalah sosok manusia yang tidak sempurna. Saya bisa melakukan kesalahan. Memaafkan diri merupakan kemampuan yang saya pelajari agar tidak terluka dengan tuntutan diri yang tiada habisnya. Memaafkan diri juga merupakan cara saya untuk berdamai dengan keadaan diri yang berubah, baik itu secara mental dan fisik.

  3. Kemampuan regulasi emosi.
    Setelah menjadi ibu saya jadi tau bahwa emosi merupakan suatu energi dalam diri yang harus disalurkan secara sehat. Saya belajar bagaimana caranya menyalurkan emosi dengan sehat dan saya mendapati bahwa olahraga dan meditasi merupakan beberapa cara yang bisa dilakukan.

  4. Kemampuan untuk merasa cukup.
    Setelah menjadi ibu saya merasa banyak sekali tuntutan terhadap peran ini, baik itu dari dalam diri maupun dari luar. Mulai dari bagaimana cara melahirkan, apa makanan yang diberikan (asi/sufor/mpasi), bagaimana cara mengasuh yang baik dan banyak lagi hal lainnya. Tuntutan tersebut seolah-olah membuat seorang ibu bukanlah ibu yang baik jika tidak diikuti. Maka dari itu, saya belajar bagaimana menjadi seorang ibu yang cukup. Hal ini saya lakukan dengan memberikan afirmasi pada diri bahwa saya merupakan seorang ibu yang baik bagi anak saya. Saya sudah memberikan yang terbaik untuk anak saya sesuai dengan kemampuan saya.

  5. Kemampuan untuk istirahat.
    Setelah menjadi ibu saya jadi mengetahui sampai mana batas diri saya. Kapan saya harus beristirahat, bagaimana saya beristirahat ketika tidak ada bantuan disekitar, bagian mana yang butuh diistirahatkan (mental atau fisik).

  6. Kemampuan untuk kembali mengenal diri.
    Menjadi seorang ibu, pasti dunia kita akan selalu berfokus pada anak. Ada waktu dimana kita mengesampingkan keinginan diri. Terlalu sering mengesampingkan keinginan terkadang berdampak pada krisis identitas. Setelah menjadi seorang ibu saya pernah mengalami krisis identitas ini. Saya lupa dengan diri saya sendiri. Lupa akan hobi yang dulu disenangi, lagu kesukaan, dan lainnya. Hingga saya belajar untuk mengenal diri saya kembali. Duduk dan bertanya dalam hati, apa yang kira-kira menarik untuk dilakukan dan apa yang saya sukai.

Tentu saja saya belum bisa menerapkan secara sempurna beberapa kemampuan yang telah saya pelajari selama menjadi ibu. Ada kalanya saya lupa dengan kemampuan yang telah saya pelajari diatas, namun saya selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam menerapkan kemampuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi ibu memang tidak mudah, namun dalam perjalananya saya mendapati bahwa menjadi seorang ibu juga sangat membahagiakan. Bahagia melihat anak tumbuh dengan baik. Bahagia melihat anak tersenyum riang. Bahagia ketika mendengar kata “I love you” yang tidak sempurna dari anak. Bahagia ketika anak datang berlari dari kejauhan dan memeluk saya. Rasa bahagia ini tidak bisa ditukar dengan apa pun. Terdengar seperti ungkapan klise, namun hal itu benar-benar saya rasakan ketika bersama anak.

1 Like

Bu, izin setor challenge ya :heart: :heart:

Menggapai Impian

Aku sudah memasuki tahun ke-5 dalam kehidupan berumah tangga. Ketika menikah usiaku sudah menuju 32 tahun, mungkin menurut standard orang pada umumnya, usia tersebut sudah usia kritis bagi seorang perempuan. Aku ingat betul ketika masuk usia 30, banyak yang bertanya, “Sudah ada jodohnya belum?” atau “Kapan nikah?” dan sebagainya.

Siapa pun pasti menginginkan kehidupan yang ideal, tapi tidak ada yang sempurna, bukan? Dalam hidup ini, kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Saat itu, karena memang belum bertemu jodoh, jadi ya aku memilih bekerja… Selain karena kebutuhan hidup yang mendesak (ayahku meninggal ketika aku sedang studi di perguruan tinggi, dan aku punya adik yang baru masuk SMA saat itu) juga karena sejak lulus SMA aku hidup jauh dari keluarga.

Singkat kata, aku sempat ingin melanjutkan studi ke jenjang berikutnya, yaitu S2, tapi ketika hendak mulai mengeksekusi rencana tersebut, ternyata jalan hidupku mempertemukan aku dengan seseorang (yang sekarang menjadi suamiku). Lagi-lagi, dihadapkan dengan pilihan. Tentu aku menerima pinangannya.

Di tahun ke-5 pernikahan ini, ternyata Allah masih belum memberiku momongan. Aku resign dari pekerjaan sekitar 2 tahun lalu, ketika awal pandemi melanda. Aku memang berencana untuk beristirahat dari pekerjaan kantoran agar bisa menjalankan program kehamilan. Pengalaman kerjaku terhitung kira-kira 12 tahun sejak lulus kuliah, baru ada gap year ya saat pandemi ini. Sebenarnya bukan gap year juga ya, karena aku sempat menjalankan usaha nasi goreng, dan pekerjaanku saat ini sebagai freelance vocal tutor untuk pemula. Dan… Tentu saja, menulis (aku kontributor untuk beberapa buku antologi bersama penulis lain terbitan penerbit indie) dan mulai mencoba menekuni dunia content writing .

Sesekali ada rasa rindu untuk kembali bekerja kantoran. Tapi lagi-lagi, hidup penuh dengan pilihan. Apalagi di era sekarang, pekerjaan yang dilakukan secara remote dari rumah cukup banyak.

Bagaimanapun, aku bersyukur. Mungkin aku memang belum diberi rezeki berupa momongan, melainkan rezeki dalam bentuk lain.

Buuu ceritanya relate banget sama aku, peluk ibu banyak banyak :hugs: :hugs: :hugs:

7 Hal yang Berubah Saat Menjadi Ibu dan Solusinya

Menjadi ibu adalah sebuah karunia yang luar biasa. Tapi apakah ibu bersiap dengan segala perubahan yang terjadi?

Pada artikel ini kami ulas 7 hal yang dapat menjadi antisipasi dalam menghadapi perubahan setelah menjadi ibu.

Apa sajakah aspek perubahan tersebut? Yuk, kita simak penjelasannya.


Ilustrasi ibu dan anak. (Sumber freepik)

Perubahan Saat Menjadi Ibu

  1. Prioritas
    Setelah melahirkan, bagi sebagian ibu yang bekerja di luar rumah seringkali dilanda kegalauan, antara melanjutkan pekerjaan atau resign agar dapat menjaga anak sendiri. Jika ibu bekerja di luar rumah, siapa yang menjadi pengasuh anak, bagaimana dengan pemberian ASInya. Perlu strategi dan diskusi bersama suami untuk mendapatkan keputusan terbaik. Tapi saat ini, terutama sejak pandemi, banyak perusahaan yang melakukan sistem work from home atau work from anywhere yang bisa menjadi pertimbangan bagi ibu.

  2. Finansial
    Ketika mempunyai anak, seolah menyadarkan para ibu untuk lebih cermat dalam mengatur keuangan, karena ada satu anggota keluarga baru yang membutuhkan biaya juga. Tidak hanya kebutuhan masa kini seperti baju, popok, dan makanan, kebutuhan masa depan seperti dana untuk pendidikan pun pastinya menjadi salah satu pos yang perlu disiapkan sejak dini.

  3. Waktu
    Apakah ibu merasa bahwa durasi mandi semakin singkat sejak punya anak? Terutama saat awal-awal setelah melahirkan. Karena sebagian besar rutinitas ibu sekarang adalah berhubungan dengan anak yang memerlukan perhatian besar. Sehingga kegiatan lain menjadi sedikit banyak terbengkalai.

  4. Update ilmu
    Perubahan menjadi ibu lainnya yang signifikan adalah tentang berbagai pengetahuan baru yang datang silih berganti. Mulai cara menyusui, menggendong yang baik, pemberian MPASI, hingga tahap apa saja yang perlu dilalui anak agar sesuai tumbuh kembangnya.

  5. Ekspektasi vs Realita
    Dengan terbatasnya waktu dan tenaga yang dimiliki, maka ibu biasanya akan menurunkan standar kerapihan di dalam rumah demi kewarasan hidup. Karena ketika keinginan dan harapan tidak sesuai kenyataan, maka mudah sekali emosi tersulut

  6. Emosi
    Setelah melahirkan, ibu berada dalam kondisi fluktuasi hormonal yang signifikan. Ibu mudah merasa sedih dan cemas, semakin sensitif. Peran keluarga terdekat yang serumah, misalnya suami sangat diperlukan untuk meredakan gejolak emosi ibu saat muncul.

  7. Intensitas dengan suami
    Sejak punya anak, suami mungkin sedikit banyak mengalah karena perhatian istri lebih banyak kepada anak. Aktivitas malam tidak seleluasa sebelumnya. Perlu komunikasi yang baik agar kedua belah dapat saling memahami dan diperoleh jalan tengah.

Ketika ada masalah, tentu saja ada pilihan solusinya. Berikut hal-hal yang bisa menjadi solusi saat banyak hal berubah ketika menjadi ibu.

Solusi Menghadapi Perubahan Menjadi Ibu

  1. Rawat Diri
    Menghabiskan sebagian besar waktu untuk merawat anak, mengurus kebutuhan suami, dan membersihkan rumah tentu hal yang melelahkan, apalagi jika dilakukan setiap hari. Untuk itu ibu perlu escape sejenak, yang bisa dilakukan tanpa keluar rumah. Cari apa yang menjadi kesukaan ibu, dan lakukan sepenuh hati tanpa gangguan. Misalnya rutinitas pagi saat semua orang di rumah masih terlelap, ibu bisa menyeduh secangkir kopi favorit.

  2. Komunitas
    Carilah komunitas atau kelompok orang yang mempunyai perasaan yang kurang lebih sama, atau yang punya ketertarikan pada bidang yang sama, hal ini akan membuat ibu merasa punya teman dan tidak merasa sendirian dalam menghadapi hari-hari penuh perjuangan di rumah.

  3. Syukur
    Jangan lupa selalu berterima kasih kepada Tuhan atas segala hal yang telah ibu miliki. Karena bisa jadi banyak orang di luar sana yang menginginkan posisi ibu saat ini. Bersyukur atas segala nikmat kesehatan, rejeki, dan kesempatan memiliki buah hati yang bisa menjadi penolong kita di akhirat kelak.

Menjadi ibu ternyata bukanlah hal yang mudah saat menjalaninya. Banyak perubahan yang terjadi saat menjadi ibu yang tidak kita prediksi sebelumnya. Tapi dengan support system dan kesadaran penuh bahwa menjadi ibu adalah pilihan kita juga, semoga bisa menjadi pengingat untuk terus bersemangat menghadapi tantangan. Selamat berjuang ibu-ibu hebat.

Selamat pagi ibu2, mau ikutan submit challenges nya yaa…
Mohon masukkannya jg yaa buibu, krn ini pengalaman pertama menulis :smile:

Rollercoaster Life As A Mom

Hai Ibu…
How’s your life going these day ?
Sudah self talk apa hari ini ?
Sudah berbahagia kah ? :blush:
Wish you have a great day, Ibu.
Perubahan menjadi seorang Ibu ternyata memang “Challenging” ya, nano nano rasanya
Kadang bersyukur sekali, kadang bahagia sekali, kadang sedih sekali, kadang marah sekali, kadang bisa tertawa lepas sekali, kadang nangis sesenggukan. But thats life going.
Perubahan menjadi seorang Ibu juga ternyata bukan melulu soal fisik
Perubahan makna dari seorang istri menjadi seorang “Ibu” ternyata cukup fundamental menurutku, yang mana secara teori dan prakteknya ternyata tidak selalu sejalan ya :sweat_smile:
Lagi-lagi pelajaran menjadi seorang Ibu adalah pelajaran sepanjang hidup
Pemaknaan sebagai “Ibu” secara tidak langsung juga bisa mempengaruhi bagaimana kita menyikapi rollercoaster life as a mom loh.
Yaa tidak mudah memang, tapi pasti Ibu bisa
Tidak ada kok Ibu yang sempurna, karena anak kita bukan lah mahakarya kita yang harus dibuat sempurna.
Biarkan dia berproses dan dampingi selalu disisinya ya, Bu.
Selama menjadi Ibu, banyak sekali perubahan yang terjadi, bagaimana kita memaknai dunia, bagaimana prioritas kita, dan bagaimana kita tersadar bahwa ternyata kita punya kekuatan Supermom yang ntah datang dari mana :blush:
Setelah menjadi ibu pun, aku masih belum bisa berdamai sepenuhnya ternyata dengan berbagai hal.
Apalagi peran ku saat ini adalah sebagai Working Mom. Menyeimbangkan peran antara Ibu dan Istri aja masih belajar, ditambah harus belajar menyeimbangkan peran sebagai Ibu dan juga pekerja kantoran, rasanya nano nano bukan main. Wish us luck ya Bu as a working mom :grinning:
Setelah menjadi Ibu pun, prioritas ku pun berubah. Dulu sebelum menikah, mungkin bisa dibilang aku workaholic, sabtu minggu pun aku “luangkan” waktu untuk kerja, hihi keliru ya mindsetnya.
Lalu setelah menikah, syukurlah suami ku masih mendukung dan mengizinkan aku untuk bekerja, but it’s already a little bit change. Sesekali aku masih bisa mengerjakan PR kantor di sabtu atau minggu, tentu dengan izin dari suami.
Tapi setelah punya anak, it’s totally change. Prioritas hidup ku berubah. Prioritasku sekarang adalah anakku. Fokus ku adalah bagaimana bisa memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembangnya.
Dulu aku masih berpikir untuk lanjut S2, sekarang jadi mulai berpikir ulang (karena biaya pendidikan anak sekarang lumayan ya Bu :smile:). Tapi masih tetap ada kok impian itu, tersimpan di dalam lubuk hati, tinggal menunggu Ring the bells aja untuk dilaksanakan, pada waktunya yang tepat.
Perubahan lainnya setelah menjadi ibu adalah bagaimana aku harus mampu menjadi pengendali suasana hati semua orang di rumah. Dulu saat masih berdua dengan duami, sepertinya pengendali suasana hati adalah suami, ternyata setelah menjadi Ibu, kemampuan itu beralih menjadi challenging poin buat aku.
Seperti kata pepatah, bagaimana suasana hati Ibu dapat memengaruhi bagaimana suasana hati semua orang di rumah. Jadi beruntunglah kita sebagai Ibu, bisa juga ternyata ya menjadi Avatar si Pengendali Emosi :smile:
Perubahan lainnya setelah menjadi Ibu adalah tentang aku harus bisa menjaga sikap dan menjaga diri, karena aku adalah salah satu role model untuk anakku. Bagaimana ucapan Ibu adalah doa yang manjur untuk dikabulkan.
Lagi-lagi, yang harus belajar adalah Ibu ternyata, bukan anak saja.
TIdak ada kata terlambat untuk belajar dan membenahi diri ya Bu. Semangat bertumbuh dan berproses Bu :blush:

Izin post challenge yah Bu. Terima kasih untuk Bu @nadiasarahw yang sudah memberikan kesempatan saya menulis dengan memberikan challenge ini.

Overcoming Postpartum Depression
Bagi sebagian wanita, saat menjadi seorang ibu, rasanya dapat langsung menjalani keseharian dengan alami, terlepas dari segala dinamika yang terjadi setiap harinya. Tapi bagi saya, saat menjadi seorang ibu dari anak pertama dalam kondisi di awal pandemi Covid-19 di tahun 2020 adalah sebuah mimpi buruk terbesar. Hal itu menyebabkan saya sempat mengalami postpartum depression. Saya mengerti bagaimana seorang ibu bisa rela membuang anaknya, walaupun mengetahui bahwa itu bukan hal yang baik namun sulit untuk melawan pikiran tersebut. Puji Tuhan kondisi saya sudah membaik dan saat ini saya sudah dapat bersyukur Tuhan telah menitipkan seorang anak perempuan dan memberikan pengalaman kepada saya menjadi seorang ibu. Melalui tulisan ini, saya ingin mensharingkan pengalaman saya bagaimana berjuang untuk menghadapi kondisi depresi tersebut dalam 4 langkah.

1. Sadar dan menerima kondisi saya
Hal pertama yang saya lakukan adalah menyadari dan menerima kondisi saya. Ini merupakan langkah awal yang sangat sulit dilakukan karena saya harus merendahkan ego saya dan melihat ke dalam diri saya sendiri termasuk menyadari kembali setiap luka yang masih ada.
• Sadar dan menerima saya depresi berat dan belum dapat mengelola emosi dengan baik.
• Sadar dan menerima saya bukan supermom yang bisa melakukan semua sendirian dan membutuhkan bantuan orang lain.
• Sadar dan menerima saya bukan manusia yang sempurna, memiliki banyak kekurangan.
• Sadar dan menerima bahwa cara orang tua saya membesarkan saya selama ini berpengaruh terhadap kondisi mental saya dan bagaimana saya membesarkan anak.
• Dan lain-lain

2. Sharing ke orang lain
Setelah menyadari dan menerima kondisi saya, saya pernah malah menjadi semakin terpuruk dan merasa bahwa saya ibu yang sangat buruk. Ternyata itu dikarenakan saya menyimpannya sendiri sehingga malah semakin memunculkan pikiran negatif. Setelah itu, saya mulai sharing ke orang lain. Dari sini saya menemukan karakter yang tepat sebagai tempat saya sharing adalah yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Ini ditemukan pada ibu lain yang pernah melalui hal yang sama dan berjuang juga untuk melewatinya.
Tidak mudah untuk menemukan karakter ini. Seringkali yang ditemukan adalah orang yang lebih suka memberi nasihat atau masukan, bukan orang yang mau mendengarkan. Sempat terpikir untuk mencari bantuan psikolog, namun belum memungkinkan dari segi biaya. Untuk konseling di gereja pun saat itu belum tersedia karena kondisi pandemi yang belum membaik. Bersyukur akhirnya saya menemukan tempat dimana saya bisa sharing dengan bebas ke beberapa temen tanpa ada yang menghakimi.

3. Belajar dengan cepat namun tidak terburu-buru
Saat saya mulai berani sharing ke orang-orang yang tepat, pikiran saya mulai terbuka dan saat itu saya memutuskan untuk harus segera keluar dari kondisi ini dan saya pasti bisa melewatinya. Setelah itu, saya mulai ikut beberapa kursus online. Namun kembali saya down karena rasanya banyak sekali yang perlu dipelajari, jadi berasa overwhelmed. Saya dapat melewatinya dengan beberapa tips berikut :
• Dari yang saya pelajari, saya simpulkan hal utama yang harus segera dilakukan adalah membangun koneksi dengan anak. Jadi yang saya lakukan pertama adalah observasi dan fokus saat bersama anak.
• Tidak membebankan diri sendiri jika belum dapat melakukan semua hal dengan sempurna.
• Menyadari bahwa anak bukan barang, melainkan manusia yang punya kehendak bebas juga.
• Meminta maaf kepada anak jika saya tidak sengaja “kelepasan” menyakitinya.
• Memperhatikan red flag dari perkembangan anak, bukan menjadikan anak lain sebagai pembanding.
• Menyadari bahwa proses belajar ini seumur hidup jadi berusaha enjoy the process.

4. Berdoa dan terus memohon rahmat Tuhan
Langkah ini saya tuliskan di bagian akhir karena biasanya bagian paling akhir adalah bagian yang paling diingat. Ini hal yang paling penting dan perlu dilakukan dalam setiap fase yang saya lewati. Namun kembali mengingatkan saya bahwa berdoa penting namun saya tetap harus berusaha jika mau terbebas dari kondisi depresi.

6 November 2022
-Melissa Stephanie-