Rangkuman: Contagious by Jonah Berger

Hey Ibu,

Satu bulan sudah berlalu nih, saatnya kita share yuk buku Contagious by Jonah Berger. Ibu bisa membuat rangkuman dengan gaya Ibu sendiri atau bisa menjawab pertanyaanku dibawah ini:

  • Hal baru apa yang ibu pelajari dari buku ini?
  • Cerita apa yang paling berkesan untuk Ibu?
  • Apakah ada impact yang terasa untuk bisnis atau hidup Ibu setelah membaca buku ini?
  • Tuliskan poin-poin yang penting untuk Ibu di masa depan.

Silahkan comment di thread ini yaa bu, biar di masa depan kalau kita mau visit buku ini bisa tinggal baca thread ini aja.

Tag Ibu-ibu yang ikutan klub buku:
@lianamaku @yofaramd @Makcip @Amimee @Devin @naninda @narschika @Fathya @Loveliest @marsha.anggita @beewirdha @MartyasListya @Amimee @opinsitanggang @Dayuvinda @KarinaAsri @DianAyu @Kreasikarinka

3 Likes

Halo Ibu @marisa dan ibu-ibu klub buku lainnya :blush:

Aku mau ikutan membuat catatan hasil membacaku untuk buku Contagious - Jonah Berger ya…

Karena aku baca buku ini terlambat (karena setauku buku ini terbit di tahun 2013), jadi buat aku beberapa bagian yang disampaikan buku ini (STEPPS) bukan hal baru lagi, karena memang materinya pasti sudah diadaptasi dan diceritakan kembali oleh banyak orang lain (dan versi orang lain beserta adaptasinya itulah yang aku dengar/baca duluan sebelum membaca buku ini :D)

Tapi tetap menarik banget buku ini, karena jadi lebih terstruktur ilmunya dan penulisnya kembali memberikan keyakinan ke aku bahwa kita bisa lho menggerakkan orang banyak dan membeli produk kita dengan beberapa cara seperti yang disebutkan dalam buku ini. Iya banget, sampai hari ini menurutku ilmunya masih sangat relevan dan bisa banget dipakai.

Tadinya aku mengira viral itu bagian dari ketidaksengajaan, tapi kalau menurut buku ini viral itu by design. Dari awal, kita sudah perlu meniatkan dan merancang produk kita itu untuk viral.

Selain urusan soal merancang sesuatu menjadi viral, membaca buku ini bikin aku juga jadi semakin mengerti kenapa kok harga iklan “adlib” di radio itu lebih mahal daripada “spot”. Simply karena yah orang tidak mendengarkan iklan, mereka mendengarkan teman. Penyiar yang sudah dianggap sebagai “teman” mereka jadi lebih “dipercaya” isi kontennya oleh pendengar daripada iklan yang diputar begitu saja.

Aku juga jadi paham mengapa kok aku bisa tertarik cerita di IG story seorang influencer yang aku percaya daripada IG story influencer lain yang aku tau dia nggak pernah pakai produknya. Itu yah karena aku percaya.

Ternyata yah kalau dipikir-pikir semuanya karena rumusan STEPPS itu. Nggak cuma perkara viral dan perkara menyampaikan “rasa” produk kita ke target market yang kita tuju sih, tapi juga bagaimana produk kita bisa berada benar di tempatnya.

Baca buku ini bikin aku mikir juga, jadi…
Gimana supaya pertanyaan-pertanyaan dalam rumusan STEPPS itu bisa aku jawab dan aku praktekkan satu persatu?
Aku perlu berbuat apa nih supaya orang-orang yang kusasar menjadi target audienceku ini bisa percaya sama aku dan membeli ceritaku, plus endingnya membeli “produkku” dan membagikan cerita tentang “produkku” itu ke orang lain?
Dan bagaimana caranya supaya cerita yang kubuat itu tidak menjadi blunder dan malah bikin orang nggak tertarik sama karyaku?

Gitu deh kira-kira mikirnya setelah baca buku ini :))
Baca buku ini emang bikin nambah peer sih, tapi seruuu jadi tambah semangat mikirin bisnisnya…

Cerita yang paling nempel dari buku ini adalah tentang Blendtec’s Will It Blend campaign. Itu gilak sih, kampanyenya keren abis. Jualan blender bukan dengan memaparkan spesifikasi teknisnya tapi langsung memperlihatkan dengan bukti. Ya udah pasti langsung “kebeli” lah ya… *duh bagaimanaaa caranya bisa mikir konten “jualan” kayak gitu, helllppp ahahhahaha…

Kalau buat ibu-ibu yang lain bagaimana?

5 Likes