Think Again - Merayakan Ketidak tahuan (Review Buku #Bincangbukuibupreneur)

Pernahkah kamu meragukan diri sendiri?

Atau, pernah melihat seorang pemimpin politik yang clueless dengan ketidak kompetenannya?

Kedua hal di atas sama-sama berakar dari ketidaktahuan, yang pertama buta akan kekuatan diri, dan yang kedua buta dengan kekurangan pribadi.

Sekarang, bayangkan ketika kamu SADAR bahwa kamu TIDAK TAHU akan kekuatan dan kekurangan diri sendiri?

Mungkin buibu akan melakukan sebuah perjalanan belajar untuk lebih mengenal diri sendiri, values dan superpowermu.

Hasilnya? walau belum mampu memperbaiki kekurangan diri, tapi penerimaan dan kesadaran bahwa kita memiliki kelemahan di bidang tertentu membuat kita lebih mawas diri dan akhirnya bertindak dengan lebih bijak. Sebuah awal sesuatu yang hebat.

The Joy Of Wrong

Think Again, buku terbaru dari Adam Grant ini (rilis Februari 2021) mengajakku berpikir ulang tentang ketidaktahuan dan kesalahan.

Menjajal dunia kewirausahaan yang penuh ketidakpastian, atau bahkan mencoba fitur Instagram Reels di tengah keterbatasan ilmu dan pengalaman kita, seringkali membuat kita ragu untuk terus melangkah.

Alih-alih mundur, jadikan ketidaktahuan dan kesalahan sebagai pertanda kalau kita perlu meningkatkan kompetensi.

“Embracing mistakes is full of painful (and shameful) moments, and we handle those moments better because it’s essential for progress.” - Adam Grant

Kuncinya: PROGRESS. Bahkan setelah belajar dan menemukan pencerahan baru, bisa jadi apa yang kita yakini saat ini dan nanti akan mengalami revisi. Seperti menjadi seorang Ibu, walau sudah bertahun-tahun dilakukan tapi banyak hal baru yang mengubah pikiran dan teknikku dalam parenting.

Buku ini mengajarkanku untuk tetap rendah diri. Semakin kita merasa sudah tahu dan merasa cukup, membuat kita kurang tertarik belajar lagi dan mengkinikan cara pandang kita.

Dalam hal ini, mari ku perkenalkan chart favoritku; Mount Stupid.

Di titik manakah saat ini kamu merasa berada?

Berpikir Ulang A la Buibupreneur

Serunya, dalam buku ini Adam Grant sering mengangkat berbagai kasus, figur, dan studi yang nyata.

Ia sempat mengulas sebuah studi eksperimen yang melibatkan 116 Italian start-up founder, dimana mereka dibagi menjadi dua kelompok; kelompok diskusi biasa, dan kelompok yang didorong untuk berpikir dan bertindak seperti seorang ilmuwan (membuat hipotesa bisnis dan mengujinya dengan cermat).

Ternyata, kelompok terakhir mendapat omset 40 kali lebih besar! dan menarik pelanggan lebih cepat. Waah, indah sekali kalo terjadi di bisnis kita, gimana sih caranya? Cek link di bawah yuk untuk tahu studi lengkapnya dan bagaimana kita bisa mengaplikasikannya di bisnis kita.

Temuan di atas menunjukkan perlunya menggunakan pola berpikir berbeda untuk situasi yang beragam. Adam Grant, yang juga adalah professor di bidang Psikologi Organisasi, menyebutkan bahwa kita memliki 4 mode dalam berpikir:

  1. Preacher - “Kami yakin kami benar”
  2. Prosecutor - “Pandangan kamu itu salah”
  3. Politian - “Saya mungkin memberi tahu apa yang ingin Anda dengar, tetapi saya mungkin tidak mengubah apa yang sebenarnya saya pikirkan” (mencoba untuk memenangkan persetujuan dari audiens)
  4. Ilmuwan - “Argumen saya kuat, tapi saya tertarik mengetahui argumen lainnya”.

Berpikir ala ilmuwan adalah kemampuan berharga, bukan cuma sebagai Ibupreneur, tapi sebagai Ibu, anggota komunitas, pelajar, istri, dan lainnya.

Rethink yang sering diungkapkan Adam Grant, agar kita actively open-minded, tertarik mendengar pandangan baru (yang mungkin bertolak belakang dengan keyakinan kita) dan berpikir ulang atas apa dan cara yang kita percaya. “Aku sih gini orangnya”, menjadi “Adakah cara lain yang bisa aku lakukan?”

Buku ini bisa jadi terkesan normatif, kalau kita berhenti hanya baca saja, untungnya Adam Grant juga membekali kita 30 Tips Terbaik, dalam “Actions for Impact” yang dibagi sesuai dengan situasi yang sedang dialami.

Ini salah satu tips favoritku “Teach Kids to Think Again” :

  1. Lakukan diskusi mingguan saat makan malam, tentang mitos di seputar kita. “Kenapa sih katanya mengalah sama yang lebih kecil?”
  2. Undang anak untuk membuat beberapa konsep/cerita dan mencari feedback dari orang lain.
  3. Berhentilah bertanya kepada anak-anak apa yang mereka inginkan ketika mereka dewasa. Buat mereka mempertimbangkan banyak alternatif untuk masa depannya.

Jika pernah menonton Inception, perasaanku membaca buku ini mirip impresinya. Mungkin setelah aku mencoba memikirkan ulang seluruh proses tumbuh, lengkap dengan perih dan malunya, kita bisa melihat gambar besarnya, bahwa kita adalah manusia yang punya keterbatasan dalam berpikir, penuh bias.

7 Likes

Baca studi tentang berpikir seperti ilmuwan untuk entrepreneur disini ya Bu, https://hbr.org/2020/11/founders-apply-the-scientific-method-to-your-startup

2 Likes

Thanks for sharing Ibu :blue_heart::blue_heart:

2 Likes