Apapun Peran Ibu, Kita Semua Berhak Merasa dicintai Apa Adanya - Ulasan buku Cinta Untuk Perempuan yang Tidak Sempurna

Buku yang ditulis oleh Najeela Shihab ini, diisi dengan pilihan kalimat-kalimat indah cenderung puitis yang maknanya cukup implisit namun terasa dalam dan “mengena”.

Bagiku, agak sedikit butuh waktu untuk mengulasnya karena bahasanya yang begitu puitis :laughing:. Pada beberapa paragraf, aku sendiri seperti harus membaca ulang untuk bisa paham dan menangkap konteks dari kalimatnya. Namun, secara keseluruhan, sebagai ibu dan perempuan kita pasti sangat relate dengan hampir semua tulisan di buku ini.

Tulisannya pendek-pendek, namun benar-benar menggambarkan realita kehidupan perempuan yang ternyata memang cukup kompleks (bukan hanya menurut kita aja hihi). Dari tulisan tentang perempuan yang punya berbagai peran dengan serba salahnya, perempuan yang selalu dihakimi tentang keputusannya, yang memilih untuk sendiri, tuntutan menjadi perempuan yang sempurna, hingga hubungan tentang ibu dan anak perempuannya.

Dikatakan di dalam buku ini bahwa dunia dapat menggunakan berbagai cara untuk menyederhanakan kompleksitas keperempuanan dan perannya (klasifikasi berdasarkan usia, working/stay at home, status hubungan, dan lain-lain). Namun, kenyataannya kita semua punya alur cerita dan keunikan yang berbeda. Buku ini menyadarkanku akan satu hal : apapun peran yang dijalani seorang ibu/perempuan, walaupun ceritanya tidak selalu sempurna, mereka tetap berhak mendapatkan cinta apa adanya dari kehidupan. Sayangnya, dukungan bagi para ibu sering kali tidak sebanding dengan kontribusinya.

Ada banyak sekali “nasehat” yang bisa dipetik dari buku ini. Namun, bagian yang membuatku menangguk-angguk adalah tentang isu yang masih akrab kita jumpai, yaitu interaksi antar perempuan yang kadang justru saling menjatuhkan.

Apakah wajar, saya yang sering lebih sensitif pada kesedihan, malah dengan semangat menceritakan kemalangan yang dialami teman? Bagaimana mungkin anda yang sering kali merasa tidak enakan, justru dengan sengaja memperuncing kecemburuan? Mengapa kita yang punya kekhawatiran berlebihan tentang banyak hal, memperparah rasa bersalah sesama perempuan?

Jika dirangkum, beberapa nilai yang kucatat dalam buku ini :
1. Perbanyak empati, kurangi perundungan
Yuk, kurangi melakukan perundungan :slight_smile: Ini juga menjadi bahan refleksi terkait pengasuhan dimana nilai-nilai yang perlu kita tanamkan adalah empati, perbanyak kebaikan dan kemurahan hati. Alih-alih memandang hidup sebagai ajang kompetisi.

2. Memaafkan adalah kebagagiaan dan kemenangan sejati. Saat mengucapkan maaf, kita sedang menjadi lebih kuat, mempraktikkan kejujuran.
Memberikan maaf berarti kita sedan menjadi lebih bebas, mengurangi beban pikiran Memaafkan bukan soal ucapan palagi pencitraan Bisa dalam keheningan dan perlahan-lahan, Namun yang terpenting, memaafkan berarti enghentikan penyesalan dan memberi kesempatan.

3. Anak-anak perempuan perlu teladan pentingnya berkarya dengan penuh konsistensi, perlunya contoh cara melawan diskriminasi
Aku sadar bahwa ternyata diskriminasi terhadap perempuan masih terjadi di berbagai sisi negeri ini. Maka dari itu, sebagai ibupreneur kita punya peran besar terhadap anak, khususnya bagi yang memiliki anak perempuan, dalam konteks diatas.

Percayalah, bahagia dan ibu bekerja adalah kata yang sejalan maknanya. Menjadi ibu dan terus berkarya adalah dua peran yang kita pilih untuk saling melengkapi, bukan saling menegasi. Ada begitu banyak pengalaman pengasuhan yang membanggakan justru saat bisa melakukannya dalam keterbatasan.

Kadang akupun masih suka bertanya-tanya tentang peran yang dijalani hari ini. Sudah betulkah aku? Salahkah langkah yang kuambil? Egoiskah aku? Jika aku tidak pilih A, apakah jadi lebih baik? Namun aku sadar bahwa semua perempuan bahkan seorang Najeela Shihab (ketika kubaca refleksinya di buku ini) pun bisa saja merasakan hal serupa seperti khawatir berlebiha atau tidak pernah meraih kecukupan buat diri sendiri. Lalu, akupun bisa lebih berdamai dengan perasaan bahwa aku juga boleh menentukan kebahagiaanku.

Menurut Mbak Najeela, Bahagia dalam arti sesungguhnya, bukan hanya tentang hilangnya rasa bersalah atau bisa membuktikan keberhasilan pada dunia, tetapi tentang keterlibatan aktif dalam kegiatan yang bermanfaat, kekuatan dalam hubungan yang nyaman dan menghangatkan. Bahagia bukan hanya tentang emosi, tapi tentang aksi dan kontribusi,

Huah, langsung berasa sekali affirmasi positifnya dan dikuatkan :heart: huehehe. Secara keseluruhan buku ini memberikan perasaan yang lebih positif untuk menjalani kehidupan dengan segala realitanya. Beberapa bagian mungkin juga membuat pembacanya haru dan menitikan air mata. Jadi, don’t be too hard on yourself and don’t forget to be kind to other woman ya bu :smiling_face_with_three_hearts: Mari bergandengan tangan :hugs:

5 Likes

hai mbaaa ranaaai, tulisannya bagus bagus mbaaa :heart_eyes:

1 Like

sampe keriting bukunya bund dibaca teruss yah hehehe… pengingat yang pas nih bahan kontempelasi ketika wiken, makacii bu ranaii