Artikel Editorial

Haloo Ibuu!

Selamat datang di online course Artikel Editorial. Pada topik ini silahkan buibu gunakan untuk bertanya ataupun berdiskusi bersama tutor kita, yaitu Bu @debbyarifin

Selamat berproses Buu :heart:

3 Likes

Bu @debbyarifin, boleh ga source itu berupa hadits atau ayat Al-Qur’an? Apa harus wawancara or data kredibel Bu?

2 Likes

Hai bu @debbyarifin . Adakah referensi link/web untuk mencari data akurat untuk sumber data artikel editorial? Dan bolehkah kita mengambil data wawancara yang dilakukan orang lain sebagai sumber data? Seperti mengutip wawancara di sebuah media/majalah/video.

4 Likes

Halo ibu @Pipit94 :blush: sebenarnya tidak ada masalah ya jika kita mengambil atau mengutip hadits serta ayat Al-Qur’an. Namun, hal ini bisa juga menjadi blunder dan tidak kredibel jika hadits atau ayat Al-Qur’an ini ditafsirkan dengan tidak tepat, misalkan kita sebagai penulis menafsirkan sendiri padahal kita tidak memiliki kapabilitas sebagai ahli kitab atau ahli tafsir. Solusinya adalah kita bisa melakukan wawancara dari orang yang memiliki ilmunya (ulama, ahli kitab, atau ahli tafsir) atau mengutip buku maupun website keagamaan yang kredibel. Terima kasih :blush:

3 Likes

Hai bu @Jellyjelia, aku coba jawab pertanyaannya satu persatu ya :blush:

  1. Untuk referensi link atau website kembali lagi pada topik artikel ya, bu. Jika kita mengangkat topik kesehatan, tentu website WHO atau Kementerian Kesehatan menjadi rujukan. Biasanya untuk dapat tahu link atau website apa yang kredibel, aku memulainya dari membaca artikel dengan topik serupa sebanyak-banyaknya. Dari artikel-artikel tersebut, kita dapat membuat list data dan sumbernya kemudian dilanjut dengan membuat riset sumber satu persatu. Memang cukup effort ya, tapi hal ini selalu aku lakukan agar artikelnya kredibel dan tidak mengada-ada.
  2. Boleh. Tetapi harus diperhatikan juga bagaimana cara kita mengutipnya ya, bu. Dalam hal ini, biasanya aku memberikan informasi bahwa data diambil dari hasil riset di website lain, misalkan, “Menurut ahli struktur Prof. A, yang dikutip dari laman strukturdansipil.com, penggunaan pondasi…”. Jadi kita tetap mencantumkan sumber website serta linknya di artikel (biasanya aku tambahkan di bagian akhir artikel).

Terima kasih :blush:

3 Likes

Thankyou, Bu @Jellyjelia
Udah mewakili pertanyaan yang ini
:star_struck:

1 Like

Makasih banyak Bu @debbyarifin atas penjelasannya

1 Like

Dear Bu @debbyarifin yang baik, Saya punya pertanyaan, apakah perlu mencantumkan referensi atau rujukan bacaan/studi/artikel yang digunakan dalam penyusunan tulisan di bagian akhir, Bu?
Terimakasih
:blush:

1 Like

Jika kita membuat artikel tentang tokoh tertentu apa harus selalu mendapatkan izin baik lisan maupun tertulis?

Bu @debbyarifin apakah boleh bu artikel editorial itu di selipkan foto atau gambar yang sesuai bu?