Ibu Multitasking, Gak Bahaya Tah?

Hai, Ibupreneur!

Sering tanpa disadari, Ibu pasti pernah melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu, iya kan? Hayo ngaku. Misalnya nih, Ibu sedang memasak sambil mencuci piring lalu tiba-tiba ada telepon dari klien sehingga mengharuskan Ibu mengangkat telepon yang masuk atau Ibu sedang zoom meeting sambil menyusui adik bayi juga sambil mendampingi si kakak mengerjakan PR. Atau yang lebih seru lagi, misalnya Ibu sedang menyiapkan sarapan dan bekal si kakak, tiba-tiba adik bayi nangis jadi Ibu langsung cepat-cepat beralih ke kamar untuk menenangkan si bayi, terus suami manggil minta tolong diambilkan handuk karena kelupaan bawa ke kamar mandi. Hufft… gimana rasanya Bu?
20240311_1734112
atau

20240311_173611

Kemampuan mengerjakan dua atau lebih kegiatan berbeda dalam satu waktu itulah disebut multitasking. Multitasking juga diartikan kemampuan untuk segera beralih dari aktivitas satu ke aktivitas lain dengan cepat.

Hasil eksperimen para psikolog dari Universitas Hertfordshire, Universitas Glasgow, dan Universitas Leeds (Livescience, 2013), menunjukkan bahwa perempuan lebih mahir dibandingkan laki-laki dalam hal beralih dengan cepat di antara tugas-tugas yang berbeda.

Ya berdasarkan penelitian itu, ibu lebih jago multitasking dibanding ayah. Walaupun ada penelitian lain yang memaparkan bahwa hal itu terjadi karena sebetulnya beban kerja ibu juga lebih berat dibanding ayah. Peran ibu dalam rumah tangga juga dalam karier atau aktivitas sosial lain di luar rumah seringkali menuntut lebih banyak waktu dan energi, dan ibu sering “terjebak” dalam pola multitasking yang intens. Meskipun multitasking dapat dianggap sebagai keterampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran yang kompleks, namun dampaknya terhadap kesehatan ibu seringkali diabaikan.

Lalu bagaimana solusi untuk mengurangi dampak multitasking terhadap kesehatan Ibu? Berikut tips yang bisa Ibu praktikkan :

1. Prioritaskan dan Atur Waktu dengan Bijak.
Identifikasi tugas-tugas yang paling penting dan atur prioritas dengan bijak. Buat jadwal yang terorganisir untuk mengalokasikan waktu dengan efisien antara pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri.

2. Praktikkan Mindfulness.
Sadarilah momen saat ini dan fokus pada satu tugas pada satu waktu. Praktikkan mindfulness atau meditasi untuk membantu meningkatkan konsentrasi dan mengurangi stres.

3. Minta Bantuan dan Delegasikan Tugas.
Jangan ragu untuk meminta bantuan dari anggota keluarga atau teman jika merasa terlalu terbebani. Delegasikan tugas-tugas rumah tangga dan pekerjaan yang dapat dilakukan oleh orang lain.

4. Berikan Diri Ibu Izin untuk Istirahat.
Penting untuk memberikan diri sendiri izin untuk istirahat dan merawat diri sendiri. Jadwalkan waktu untuk beristirahat, berolahraga, dan melakukan aktivitas yang menyenangkan untuk memperbarui energi dan meningkatkan kesejahteraan mental.

5. Batasi Penggunaan Gadget
Kurangi gangguan dari perangkat elektronik dan media sosial. Tetap fokus pada tugas-tugas yang sedang dilakukan tanpa gangguan dari telepon atau komputer.

Dengan menyadari dampak multitasking pada kesehatan ibu dan menerapkan solusi-solusi ini, Ibu dapat mengurangi stres, meningkatkan kesejahteraan, dan menjaga kesehatan fisik dan mental Ibu. Jika Ibu merasa terlalu terbebani, penting untuk mencari bantuan profesional agar mendapatkan dukungan dan saran yang diperlukan.

Mengenal Mom Guilt, Perasaan yang Sering Hantui Para Ibu

Ibu sangat dekat sekai dengan rasa bersalah. Seperti merasa bersalah saat meninggalkan anak ketika terpaksa keluar rumah karena ada satu urusan.

Atau juga bagi ibu yang bekerja sering terpikir merasa salah karena tidak punya banyak waktu bersama anak. Padahal, keputusan tetap bekerja di luar rumah juga dilakukan untuk menjamin masa depan anak.

Merasa menjadi ibu tidak berdaya karena tidak menghasilkan uang dan menjalani rutinitas yang monoton hari demi hari, lalu takut kalau anak tidak bangga punya ibu seperti ibunya ini. Ibu juga merasakannya kan?

Perasaan tersebut muncul umumnya karena kita, para ibu kerap kali terjebak dalam narasi tuntutan menjadi ibu yang sempurna oleh masyarakat dan sekitar. Jika Ibu sedang mengalami beberapa perasaan di atas, kemungkinan Ibu sedang mengalami mom guilt.

Mom Guilt, Perasaan Bersalah yang Sering Hadir dalam Diri Ibu

Mom guilt adalah perasaan bersalah atau kecemasan yang dialami oleh ibu terkait dengan pengasuhan, pekerjaan, atau keputusan yang mereka buat terkait dengan anak-anak mereka.

Ini bisa muncul dari berbagai situasi, seperti merasa bersalah karena bekerja dan meninggalkan anak di bawah pengasuhan orang lain, merasa tidak mencukupi sebagai orang tua, atau merasa bersalah karena menghabiskan waktu untuk diri sendiri.

Mom guilt adalah fenomena yang umum dialami oleh banyak ibu dan bisa memengaruhi kesejahteraan mental mereka. Ibu bisa mengalami mom guilt karena berbagai alasan.

Beberapa penyebab umum mom guilt adalah tekanan dari eksternal, merasa memiliki waktu yang sedikit untuk anak, mengikuti standar yang tidak masuk dalam standar keluarga.

happy-family

5 Cara Agar Ibu Keluar dari Mode Mom Guilt

Keluar dari mode mom guilt memang harus ibu lakukan jika ingin memiliki kesejahteraan mental. Terus-terusan merasa bersalah, tidak layak, dan meragukan diri sendiri tidak baik bagi seorang ibu yang mendampingi tumbuh kembang anaknya.

Untuk mengatasi mom guilt, Ibu dapat mencoba beberapa strategi berikut:

  1. Sadari bahwa Perasaan itu Normal

Mengakui bahwa mom guilt adalah pengalaman umum bagi banyak ibu dapat membantu meredakan kecemasan dan merasa lebih diterima.

  1. Jangan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Hindari membandingkan diri dengan ibu lain atau gambaran sempurna yang ditampilkan dalam media sosial. Setiap keluarga memiliki dinamika dan tantangan sendiri.

  1. Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Sadari bahwa kualitas waktu yang dihabiskan dengan anak-anak jauh lebih penting daripada jumlah waktu yang dihabiskan bersama mereka. Berikan perhatian sepenuh hati saat bersama anak-anak.

  1. Tetapkan Batasan dan Prioritaskan

Tentukan batasan yang realistis untuk diri sendiri dan prioritaskan tugas-tugas yang paling penting. Jangan ragu untuk meminta bantuan dari pasangan, keluarga, atau teman jika diperlukan.

  1. Beri Diri Waktu untuk Dirimu Sendiri

Merawat diri sendiri penting untuk kesejahteraan mental dan emosional ibu. Beri diri waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda nikmati dan membuat Anda merasa terisi ulang.

Mengambil langkah-langkah penyelamatan diri dari mom guilt, ibu dapat mulai mengatasi mom guilt dan merasa lebih percaya diri dalam peran Ibu sebagai orang tua.

Jadi, jangan tenggelam dengan standar dari eksternal dan mulai membangun tujuan dan standar pengasuhan sendiri sesuai dengan nilai yang akan ditanamkan kepada anak dan keluarga. .