Mengajarkan anak mencintai dirinya sendiri

Halo, Ibupreneur!

Nah, kalau beberapa tulisan sebelumnya cenderung menekankan self-love untuk diri sendiri alias para ibu. Kali ini aku mencoba untuk membahas penerapan self-love kepada anak.

Jadi, self-love atau mencintai diri adalah “keadaan penghargaan terhadap diri sendiri yang tumbuh dari tindakan yang mendukung pertumbuhan fisik, psikologis, dan spiritual kita” (Khoshaba, 2012 dalam positivepsychology.com).
Jadi self-love ini mengenai menghargai diri kita sendiri sebagai manusia yang layak dicintai dan dihormati.

Sadar gak sih, terkadang kita lupa mengajarkan anak-anak untuk menghargai diri mereka sendiri… merasa bangga akan dirinya, memperbolehkan mereka membuat batasan diri sendiri (misalnya ketika sedang tidak ingin berbagi, tidak ingin disentuh, atau melakukan apapun yang merupakan bentuk paksaan orang lain terhadap mereka), dan menekankan bahwa apa yang dia capai juga merupakan hasil dari usahanya yang tekun.

Justru, terkadang tanpa sadar kita malah “merendahkan” diri anak di hadapan orang lain apabila dipuji. Padahal kan yang dipuji anak yah bukan kita… hihi. Sebetulnya saat itu bisa jadi kesempatan kita menghargai diri anak sehingga dia akan mencintai dirinya sendiri. Yang terpenting, saat memuji kita juga perlu tekankan usaha atau prosesnya.

Nah, lalu kira-kira bagaimana sih memupuk self-love pada anak?

  1. Ajarkan self-talk yang positif. self-talk positif adalah suara internal yang menyemangati diri kita, menghibur kita saat kita merasa sedih, dan mendorong kita untuk terus maju. Kita dapat mengajari anak-anak untuk menggunakan self-talk positif dengan mempraktikkan pernyataan seperti, “Aku bisa melakukan ini”, dan “Aku cukup apa adanya”. Semakin banyak kita mengatakan dan mempraktikkan pikiran positif ini, semakin kita akan benar-benar mempercayainya. Ini adalah strategi penanganan yang sehat yang harus dimiliki setiap anak dan dewasa muda untuk mengelola emosi.

  2. Contohkan dan ajarkan rasa syukur. Mempraktikkan rasa syukur berarti merenungkan mengenai apa yang kita syukuri. Manfaat syukur termasuk kebahagiaan yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, pengembangan keterampilan emosional yang lebih kuat, dan banyak lagi. Luangkan beberapa menit setiap pagi atau malam untuk merenungkan apa yang kita syukuri. Ajari anak-anak untuk bisa bersyukur karena melihat matahari terbit di pagi hari, berlatih bola basket sepulang sekolah, memiliki anggota keluarga yang baik, atau sekedar menikmati makan siang yang enak untuk hari itu. Baik besar atau kecil, setiap situasi yang kita syukuri membantu kita mengembangkan keterampilan bersyukur dari waktu ke waktu.

  3. Mendorong anak memiliki growth mindset. Pola pikir growth mindset mengajarkan kita bahwa keterampilan dapat dikembangkan seiring waktu dengan kerja keras dan latihan. Dengan mendorong anak-anak untuk mengadopsi mindset ini, kita membantu mereka belajar bahwa mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan bekerja keras, belajar dari kesalahan, dan memotivasi melalui tantangan yang muncul. Daripada merasa buruk tentang diri mereka sendiri saat menghadapi tantangan atau membuat kesalahan, bantu anak-anak belajar bahwa kesalahan sebenarnya memberi kita pelajaran berharga. Salah satu caranya, bisa dengan mempelajari orang-orang sukses yang gagal tetapi bangkit kembali. Beberapa orang terkenal termasuk Michael Jordan, Walt Disney, Oprah Winfrey, J.K. Rowling, dan Steve Jobs, adalah beberapa di antaranya.

  4. Tingkatkan kebaikan. Ajari anak-anak bahwa ketika mereka baik kepada orang lain, itu sebenarnya membuat mereka merasa baik juga. Begitu anak-anak mulai menyadari hal ini, ini membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif di sekitarnya. Bisa dengan menggunakan “Random Act of Kindness Slip” agar anak-anak merekam ketika orang lain bersikap baik kepada mereka. Tempelkan ini di papan buletin kebaikan khusus sehingga pemberi kebaikan dapat dikenali.

Semoga membantu ya, bu! Dengan anak memiliki self-love yang baik, diharapkan ia akan lebih percaya diri, tidak mudah putus asa dan siap menghadapi tantangan di kemudian hari. :blush:

sumber : Teaching Kids Self-Love in the Classroom - The Pathway 2 Success

2 Likes