Parenting in Digital Age

Ada yang aneh dengan teks di atas? Ga ada yah, kayanya pengirim pesan itu lagi pengen makan spagethi kali.

Bisa jadiii… tapi bisa jadi juga bermakna yang lain dan bukan minta dikirim makanan loh tapi… “send me some nudes (pictures)!”

Loh kok bisa? Menurut @barktechnologies (ig) atau www.bark.us icon-icon kini digunakan sebagai bagian dari bahasa slang kekinian, yang bisa jadi maknanya berbeda dari yang terlihat. Seperti contoh spagethi di atas, ternyata bisa juga artinya adalah nudes (dari noods —> asalnya dari kata noodles).

Parenting in digital age memang penuh tantangan karena semakin banyak celah yang terbuka bagi anak-anak kita tanpa bisa diawasi 24/7. Artinya sebagai orang tua, kita harus selalu mengkinikan pengetahuan tentang berbagai aplikasi, trend, bahkan hal kecil seperti icon di atas. Agar selalu relevan dan juga bisa memitigasi risiko tersembunyi yang mengintai anak-anak kita.

Saya yakin, Ibu-Ibu kece disini pasti membekali anak-anaknya dengan norma yang baik. Tapi memang sulit membendung semua ancaman apalagi kalau aplikasi dan hiburan digital tampak “innocent”. Misalnya, anakku (umur 6 tahun), yang biasanya suka main games Baby Bus kemudian tiba-tiba minta main Among Us, Roblox, Minecraft karena mendengar temannya (7-9 tahun) memainkan games itu.

Dari penampakannya tampak cute, tapi setelah dicek sana sini, untuk umur 6 tahun tidak direkomendasikan main games dengan sistem multiplayer. Yah paling bakal sering dengar “teman aku boleh main itu sama Ibunya” beserta tangisan, tapi gapapa yang penting kan safety first kalau aku sih.

Membesarkan Generasi Alpha itu penuh tantangan tapi sekaligus begitu banyak peluang dengan limpahan kemudahan on-demand yang bisa didapat. Supaya bisa selalu membersamai mereka sampai mereka mengerti bagaimana melindungi diri di dunia digital, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan sejak dini:

  1. Menjadi role model bagaimana menggunakan gadget.
  2. Selalu mengikuti perkembangan teknologi, untuk mengetahui caranya bekerja, termasuk mencari tahu bahaya dan kelebihannya. Tips: tinggal cari review summary dari internet ya Bu :kissing_smiling_eyes:
  3. Tidak membiarkan anak screen time dibalik kamar tertutup.
  4. DIskusi berkala tentang aktivitas berinternet yang baik.

Dalam satu studi tentang peran orang tua dalam mencegah terjadinya cyberbullying, ternyata diantara strategi emosional (kehangatan dan kedekatan orangtua dengan anak) dan strategi teknik (melalui monitoring dan mengaktifkan mode parental control di platform yang digunakan anak), secara konsisten justru strategi emosional lah yang terkait dengan aktivitas cyberbullying yang lebih rendah baik dari sisi pelaku maupun korbannya.

Hasil tersebut menggarisbawahi perlunya orang tua memberikan kehangatan emosional yang mungkin mendukung anak untuk terbuka tentang aktivitas online anak.

referensi:
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1359178917301878

4 Likes