Pentingnya Mengambil Jeda Untuk Seorang Ibu

Bu, pernah ngerasa capek nggak menjalani peran sebagai Ibu? Atau mungkin ada yang sempat mengalami baby blues atau postpartum?

Dua tahun yang lalu aku sempat merasa capek, stress, sampai merasa kehilangan diri saya setelah menjadi Ibu. Banyak energi yang harus aku keluarkan untuk memahami trauma masa kecil yang dialami suami karena mertuaku. Trauma ini membuat self esteem suami menjadi kurang baik, dan mudah bicara hal buruk terhadap diri sendiri (negative self talk). Ia mudah merasa gagal, sensitive dan overthinking. Aku merasa ingin sekali masuk ke lorong waktu dan menolong innerchild suami. Awalnya aku berfikir permasalahan trauma ini hanya ada pada suami. Tapi tanpa sadar, aku pun mengalaminya. Aku ingat, dulu saat inda kecil tantrum yang Ibu lakukan adalah mengunci aku di dalam kamar sampai berhenti menangis. Dan sebagai Ibu, saat 2 tahun lalu itulah, titik dimana aku merasa kehilangan diri sendiri dan tanpa sadar aku mengunci anakku di dalam kamar karna hal sepele yang ia lakukan. Lalu saya menangis di luar kamar.

Hobi Journaling ku lah yang menolong aku untuk segera sadar ada rantai trauma innerchild yang tidak boleh terulang kepada anak saya. Saya minta maaf kepada anak saya. Akhirnya saya rutin mengambil jeda dengan rutin menulis jurnal 3-5 halaman di setiap pagi sebelum anak bangun.

Seorang Ibu harus rutin mengambil jeda. Mengambil jeda untuk lebih banyak mendengarkan diri sendiri dan meluangkan waktu untuk diri sendiri (me time). Agar bisa nyaman dengan diri sendiri. Bukan me time yang hanya untuk “kabur” sesaat dari perannya sebagai Ibu, tapi me time yang berkualitas. Me time yang dapat mengisi gelas cinta Ibu kembali saat sudah hampir habis.

Darisinilah awal mula ide ku membuat bisnis Self Care Box yang aku beri nama Happiest Smile. Aku ingin para Ibu menyadari pentingnya mengambil jeda. Pentingnya mengisi kembali cangkir. Pentingnya menyayangi diri sendiri terlebih dahulu, karena setelah itu baru kita bisa sayang dengan orang lain. Beberapa hal yang aku catat di dalam jurnalku tentang self love mindset yang penting dilakukan oleh Ibu

1. Listen to my heart and innervoice.
Mendengarkan diri sendiri dan mencari tau apa yang terbaik untuk diri sendiri. If you always listen to other people, if you live your life to impress other, to make others happy, Then you never gonna be happy to your own life.

2. Discover my strength.
Mencari dan mengexplore kelebihan yang kita miliki, talents, hobi, kegiatan yang kita suka. Atau Ibu bisa tanyakan ke teman-teman atau org terdekat apa kelebihan yang Ibu miliki.

3. Accept the imperfection.
Memaafkan dan menerima kekurangan yang kita miliki sebagai bagian dari diri kita.

4. Allow to feel any kind of emotions.
Emosi positif maupun emosi negatif. Jangan pernah berpura-pura baik baik saja, padahal sebetulnya kita sedang marah, sedih atau kecewa. It’s okay not to be okay, Bu.

5. Finding gratitude in all situation.
Fokus dengan apa yang kita miliki saat ini dan bersyukur.

Di dalam box Happiest Smile ada sebuah Guided Journal yang kami design sendiri, isinya banyak pertanyaan-pertanyaan dan insight yang memudahkan para Ibu menuangkan pikiran dan perasaannya. Saat ini kami baru launching dengan self love box kami. Setiap bulannya kami akan melaunching box dengan tema yang berbeda untuk menjawab kebutuhan para Ibu. Perjalananku cukup panjang untuk sampai bisa berani melaunching Happiest Smile. Beyond thankful untuk Ibu Punya Mimpi dan energi positif semua para Ibu disini :sparkling_heart: :smiling_face_with_three_hearts:

Menjadi Ibu yang sehat jiwanya bukanlah sebuah tujuan, melainkan sebuah perjalanan. Jadi pastinya ga bosen bosen aku mengingatkan harus sering dirawat ya bu Ibu… Sering peluk diri sendiri dan berikan afirmasi positif untuk diri sendiri.

Aku punya mimpi ingin dunia lebih damai, tentunya dengan generasi penerus yang lebih damai. Tapi aku tidak bisa sendirian, aku bersama para Ibu ingin terus bertumbuh menjadi Ibu yang penuh cinta, yang memberikan senyuman paling tulus dari hatinya untuk anak-anaknya.

Semoga tulisanku ini bermanfaat. Nah mumpung hari ini weekend, yuk ambil jeda bu Ibu… istirahat sejenak… me time apa nih kira-kira yang mau Ibu lakukan? Boleh share disini yaa buu :sparkling_heart: :sparkles:

12 Likes

Halo bu Inda terima kasih untuk ceritanya…ikut berbagi cerita me timeku ya bu…

Sebelumnya kukira me time aku harus keluar rumah seperti ke toko buku,bertemu teman,ke salon atau sekedar pergi ke cafe dekat rumah mencoba kopi baru. Namun ketika keadaan tidak memungkinkan aku keluar rumah malah jadi tambah sesak rasanya. Akhirnya aku mengubah mindsetku bahwa me time bisa saja kulakukan di rumah. Aku mulai dengan menemukan kegiatan apa saja sih yang bisa membuatku fresh; berkerajinan tangan, mendengarkan musik, membaca buku dan nonton drakor. Lalu kusiapkan skenario yang paling memungkinkan untuk mendukung ini bu seperti;

  • meletakkan meja tinggi di area anak bermain meskipun aku harus melakukan hobby ini sambil berdiri dan sesekali mangawasi anak bermain namun cukup membuat hati senang bu
  • mendengarkan musik sambil menyetrika, hati senang setrikaan beres hahaha
  • membaca buku dan nonton drakor saat anak tidur siang

Me time sepuluh menit yang berarti bagiku, yang membuatku kembali siap membersamai anak-anak :blush: aduh jadi panjang ya bu, maapkeun yakkkk heheuuu…

8 Likes

hai bu… aku senang banget Ibu berhasil mengalahkan itu semua dengan segala afirmasi positif… semoga bahagia selalu ya buu

aku juga pernah beberapa saat merasakan seperti itu. dan yang membantu aku untuk bisa bangkit adalah:

  1. berhenti mendengar apa kata orang
  2. menutup semua sosial media
  3. memaafkan diri sendiri dengan rutin

karena kebiasaan ku untuk prioritaskan orang lain jauh diatas prioritas diri. hihihih

7 Likes

Hai Ibu @stellanostra terima kasih aku senang sekali membaca ceritanyaa buu, betul sekali mulai dari mencoba mengubah mindset bahwa me time bisa saja dilakukan di rumah. Kemudian mengeksplor kegiatan me time yang paling mendukung. Menemukan kegiatan me time yang dapat membuat kita kembali siap mendampingi anak setelah melakukannya :hugs: :hugs: peluk hangat untuk Ibu dan keluarga

4 Likes

Hai ibu @Monalisa terima kasih sudah berbagi cerita ya buu :relaxed: kebiasaan memprioritaskan orang lain jauh diatas prioritas diri sendiri ini jujur aku pun memiliki kebiasaan yang sama… sekarang lagi berlatih untuk bilang “Tidak” untuk apapun yang bukan prioritas utamaku. Pelukk dan semangaatt Ibuu :sparkles: :hugs:

5 Likes

terima kasih untuk tulisannya dan pengingatnya bu @naninda, semoga kita semua bisa berkomunikasi dengan baik dengan inner child kita yaa dan berteman dengan pengalaman yang terjadi di masa lalu.

Tungguin ada Podcast istimewa yang mengangkat ini bu… semoga bisa menginspirasi ibu-ibu yang lain.

4 Likes