Pesan Cinta: Cerita Cinta untuk Anakku

Halo Ibu,

Menjelang akhir pekan ini, saya ingin sedikit sharing mengenai sebuah novela (lebih tipis dari novel :D) yang berhasil saya tulis di masa pandemi ini. Judulnya Pesan Cinta. Mengapa saya beri judul tersebut? Saya seorang ibu tunggal dari satu putri, Ainka, yang memasuki usia sembilan tahun. Ayahnya Ainka menghembuskan napas terakhirnya ketika Ainka umur 4 tahun. Sebentar saja menikmati kebersamaan bersama ayahnya namun (mudah-mudahan) sosoknya selalu melekat di hati anak kami.

Novela ini saya tulis hasil dari penemuan harta karun berupa setumpuk buku harian dan surat cinta antara saya dan alm suami ketika kami pacaran jarak jauh dua puluh satu tahun lalu. Saya baca ulang, saya ceritakan kembali, eh tahu-tahu jadi buku hehe… Ketika menemukan dan membaca surat-surat lama itu rasanya ya pasti tak karuan ya, semua rasa ada dari seneng, kesel, sedih… pokoknya ketawa, nangis terus ketawa lagi…hehe… Saya senang membacanya karena mengobati rasa kangen dengan nostalgia kenangan kami berdua dulu. Saya pun langsung ingin menceritakan kepada Ainka. Dia harus tahu sosok ayahnya seperti apa hingga akhir hayatnya. Mumpung ingatan saya juga mais tajam kan hahaha…

Ternyata proses menulis ini menjadi bagian terapi untuk diri saya sendiri. Setelah menamatkan cerita, ada sebuah beban yang sepertinya lepas dari dalam diri saya. Mungkin benar adanya bahwa menulis atau journaling adalah sebuah terapi yang bisa melepaskan emosi terdalam kita ya. Mungkin nanti mba @Fathya bisa konfirmasikan hal ini selanjutnya hehehe… Saya memang dari kecil suka menulis, bahkan dulu ketika masih pacaran dengan alm suami kalau marah malah nulis di kertas :smiley: dan tahun 1999 itu saya sampaikan juga di buku harian itu kepada alm suami kalau salah satu cita-cita saya ingin menjadi penulis buku fiksi. Tak pernah menyangka kalau dua puluh satu tahun kemudian saya menulis buku, bukan fiksi memang, tetapi kisah nyata saya dengan alm suami untuk anak kami :slight_smile:

Semoga kelak cerita cinta kami, orang tuanya, bisa menjadi pesan cinta untuk Ainka dalam mengarungi kehidupannya kelak.

Sedikit penggalan dari novela saya, Pesan Cinta. (Terima kasih Mba @MartyasListya untuk kesempatannya :))

Pesan Cinta (Penulis: Karinka Ngabito)

Kini kugoreskan pena untuk menceritakan kisah kasihku bersama belahan hatiku sebagai kenang-kenangan untuk aku dan anakku, untuk mengenang sosok yang begitu melekat sebagai teman, pacar, suami dan ayah. Salah satu cara untukmenghormatinya, sosok yang aku kagumi, aku sayangi.

Sebagaimana layaknya menjalani hidup, pasti banyak pengalaman suka dan duka. Hidup dengan Martin walau hanya selama tujuh belas tahun, rasanya kami berdua sudah banyak menjalani manis pahitnya bersama-sama. Kurang puas, ya pasti. Tentunya ini semua kisah kasih kami berdua. Setiap pasangan pasti mempunyai beda cerita, ada keistimewaan masing-masing.

Aku berbagi dan menulis tentang Martin, supaya aku bisa bercerita kepada anakku, Ainka, dan menguatkan memoriku.

Hati seorang ibu mana yang tak sedih apabila melihat anak satu-satunya menangis karena kangen ayahnya. Saat aku menulis buku ini, sudah empat tahun ia meninggalkan dunia ini, meninggalkan kami berdua. Suratan takdir dari Allah menuliskan anak tunggal kesayanganku akan menjadi anak yatim saat menginjak usia 4 tahun 5 bulan. Sering kali sebelum kita tidur, Ainka suka minta diceritakan tentang ayahnya atau terkadang ia mengungkapkan perasaannya padaku.

“Momskie, Ainka kangen Popskie,” ujar Ainka.

Aku peluk anakku, aku beri pengertian dan penjelasan sebisaku, entah dia mengerti atau tidak. Yang penting aku selalu ingatkan dia untuk selalu berdoa untuk orang tuanya.

“Momskie juga kangen. Sabar ya, Nduk. Ainka anak kuat. Ainka jangan lupa banyak doa untuk popskie biar popskie senang di sana. Hanya doa Ainka yang bisa kasih popskie cahaya biar popskie silau sampai pakai kacamata hitam di sana,” hiburku dan ia pun tersenyum.

Kadang kami menangis berdua di kamar, seringnya aku yang harus kelihatan tegar. Tapi kadang anak kecil ini pun lebih tegar dan bisa menenangkanku.

It’s okay, Momskie. I am here,” seringkali ujarnya kala ia menguatkanku.

Pendek tapi menenangkan.

Tak berapa lama biasanya Ainka sudah kembali ceria karena kami berdua suka sekali melihat video-video lucu saat ayahnya masih ada untuk hiburan kami berdua di kala rindu dengannya. Sedangkan aku? Bisa tetap mellow hingga seminggu ke depan… ha-ha…

Sepeninggal Martin, aku sering membaca artikel mengenai bagaimana cara menghadapi anak yang sedang berkabung. Aku suka membaca artikel-artikel di sebuah website khusus membahas childhood grief, www.childrengrief.org. Sebuah organisasi yang membantu anak-anak dan remaja di Amerika Serikat dalam menghadapi kesedihan khususnya ketika ditinggal oleh orang kesayangannya.

Menurut beberapa artikel di sana, seseorang yang sedang berduka membutuhkan waktu dan proses untuk menerima- nya, anak-anak pun begitu bahkan ia merindukan sosok yang dirindunya dengan caranya sendiri. Sebenarnya, anak tak akan pernah “selesai” merindukan seseorang yang sudah meninggal tapi mereka bisa belajar bagaimana tetap hidup dengan kenyataannya. Berduka bukanlah suatu masalah yang harus kita benahi dari seorang anak, itu adalah sebuah pengalaman yang ia akan jalani. Mood dan feeling anak akan berubah sejak kejadian itu, bahkan tahunan, adalah hal yang biasa sebagai cara mereka beradaptasi untuk hidup tanpa harus ada kejadian berduka. Anak-anak butuh orang dewasa untuk bersabar dengan diri mereka selama mereka menyesuaikan perubahan yang terjadi.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 membuat kita harus tinggal banyak di rumah saja. Momen itu kusempatkan untuk merapikan beberapa sudut di rumah yang tak pernah kusentuh. Mataku tertuju pada sebuah kotak kain berbentuk persegi panjang dan berwarna hitam yang sudah berdebu.

“Astaga, kotak ini isinya penuh kenangan dengan Martin,” ujarku dalam hati.

Aku mengetahui pasti isi dari kotak tersebut tapi kesibukanku membuat lupa akan keberadaan kotak itu. Kalau bukan karena masa pandemi yang mengharuskan kita berlama-lama di rumah, mungkin aku tak akan pernah membuka kotak itu.

Di tahun ke empat ia menghembuskan napas terakhirnya, aku menemukan sebuah harta karun. Aku ingin membuka kotak kenangan itu dan menghidupkan kembali kenangan manis dan lucu bersamanya. Ah, mengingat masa-masa indahbersamanya bisa mengobati rasa kangenku, pikirku. Sewaktu ia masih ada, kami pun tak ingat ternyata kisah kami berdua mempunyai saksi bisu berupa setumpuk buku, surat dan kartu ucapan. Perjuangan kami selama pacaran jarak jauh menghasilkan puluhan surat cinta yang dikirim melalui pos antara Jakarta dan Duisburg, sebuah kota kecil di Jerman bagian barat dimana dia meneruskan studinya. Kalaupun aku ingat tentang kotak kenangan itu, aku tak akan mau membuka dan membaca bersamanya karena di antara tumpukan itu, ada buku-buku harianku yang kutulis sejak di bangku SMA hingga aku pacaran dengannya. Ia selalu ingin membaca buku-buku itu tetapi tak pernah kuizinkan.

“Mana buku harianmu? Aku baca dong buku harian kamu,” pintanya suatu hari.

“Sudah aku bakar. Lagian kalau masih ada, kamu boleh baca kalau sudah jadi suamiku,” balasku.

“Ah, aku ga percaya, mana mungkin dibakar. Aku tuh lebih percaya baca buku diarymu. Semua pasti detail diceritain di situ,” katanya tak percaya.

Wah, sial, dia lebih percaya membaca buku harianku daripada mendengarkan langsung dariku. Pastinya ya tulisan di buku harianku lebih detil menceritakan kejadian sehari-hari yang aku alami, apalagi tulisanku mengenai awal perkenalan dengannya. Aku pikir nanti dia bisa menyesal kalau baca. Lagian kalau dia baca, dia bisa geer kalau membaca bagian tentang dirinya, dimana aku memuja-muji dia.

Dua puluh satu tahun telah terlewati sejak kami pertama bertemu. Surat-surat cinta serta buku harian yang menemani hari-hari kami dulu ternyata masih tersimpan rapi selama ini. Kualitas kertas yang bagus membuat tulisan kami berdua masih bisa dibaca dengan jelas, seakan-akan kami menulisnya seperti baru kemarin. Aku langsung berpikir bahwa semua itu akan menjadi pesan cinta yang sangat berharga untuk diceritakan kepada putri kecil kami, dan untukku juga. Tulisan Martin penuh arti cinta. Aku mau Ainka tahu dan merasa bangga pada ayahnya yang mencintai ibunya dengan segenap hatinya. Semoga tulisanku ini bisa membantu Ainka mengobati rasa kangennya terhadap ayahnya dan menjadi salah satu pegangan hidupnya kelak. Aku ingin memberi pesan cinta untuk putriku bahwa cinta sejati itu ada dan tak pernah pudar.

The most important thing a father can do for his children is to love their mother.
(Theodore Hesburgh)

Terima kasih sudah membaca sebagian kisah saya :slight_smile:
Apabila ibu hendak membaca beberapa review lebih lanjut tentang cerita ini bisa akses ke sini ya:

https://drive.google.com/drive/folders/1JC6Qhocy_TMceG_rZsZKJcEEKhBipN8J?usp=sharing

Semoga menghibur :slight_smile:
Happy weekend, Ibu-ibu!

8 Likes

Bu @kreasikarinka,
Aku ikutan nangis Bu…
Stay strong ya Bu Karinka dan Ainka…

What an inspiring story.
Saya jadi ingat kayaknya pernah ada yang share journaling adalah terapi yang baik untuk menyembuhkan dan menguatkan diri.
Jadi semangat ikutan journaling journey nih seperti Ibu-Ibu hebat disini…

2 Likes

bu… aku speechless bu…

terima kasih sharingnya bu. menguatkan aku bu yang lagi sering mengeluh dan merasa lemah.
Bu, kalau boleh ibu share lagi (maaf kok jadi malah banyak mau tahu) tapi semoga berkenan, bagaimana waktu itu proses ibu sampai bisa kuat mendampingi anak juga? karena saya masih suka lemah kalau teringat almarhumah kakek saya yang dekat sekali dengan saya dan dekat dengan anak saya. Saya tidak terbayang dengan apa yang ibu lalui. sungguh kuat sekali.

2 Likes

Haiii bu @DianAyu jangan nangis dong… hihi… baca bukunya nanti mesam-mesem kok (menurut yang udah baca heheheheh). Terima kasih ya atas suntikan semangatnya :slight_smile:

iya betul, ternyata menulis banyak membantu melepaskan banyak perasaan :smiley:

2 Likes

hai bu @KarinaAsri. sama-sama yaaa… prosesnya sih sampai sekarang tetep didampingi ya… alhamdulillah anak saya lengket sama ibunya hihihi jadi kami berdua suka cerita-cerita…

saya pun emosinya masih naik turun kadang-kadang hehe tapi anak itu kadang lebih kuat. sekarang mellow, beberapa menit kemudian udah gembira lagi… kebetulan anak saya senang gambar dan main piano, jadi saya arahkan ke sana kalau dia lagi agak mellow atau biasanya kalau dia mellow kangen ayahnya, dia minta diceritain tentang ayahnya yang lucu-lucu dan kita nonton videonya juga :smiley:

kalau udah kangen banget sih saya suruh telpon oom-oomnya aja hehehe

4 Likes

Ibuuu, what a romantic love story bu! Pengen bgt baca buku nyaa hihihi…

semangat dan bahagia selalu ya buuu, semoga selalu dikelilingi dengan energi positif untuk ibu dan keluarga. salam peluk jauh buu :heart:

4 Likes

Hai bu @Monalisa

hihihi makasih yaa… boleh banget loh kalau mau beli bukunya hehehe
terima kasih untuk doa dan semangatnya yaa… peluk jauh jugaaa :smiling_face_with_three_hearts:

3 Likes

Hai ibu @kreasikarinka aku melting baca ini bu… semoga ibu dan sikecil selalu sehat dan kuat…:kissing_heart: ceritanya menyentuh hatiku…

3 Likes

Ammiinn… terima kaasih bu @Loveliest :heart_eyes: :smiling_face_with_three_hearts: :innocent:

1 Like