Product Placement (PPL) di Drama Korea. HDYT (How Do You Think)?


(sumber foto: pexels.com)

Halo Ibu, gimana harinya? Semoga semakin semangat ya… Harusnya artikelnya membahas tips mudah nih. Tapi dalam artikel hari ini, bagaimana kalo kita membicarakan drama korea? Drama yang sedang Ibu ikutin apa nih? Ibu tim on-going atau nanti yang nontonnya setelah dramanya tamat? Tapi gini nih Bu, Ibu pernah memperhatikan detail drakor tidak? Saya baru saja selesai menonton dramanya Kim Soo Hyun yang judulnya “It’s Okay to not be Okay”. Di drama itu, tampak sekali mobil yang digunakan oleh para pemainnya adalah mobil keluaran Eropa. Setiap ada janji bertemu, ketemuan di restoran pizza atau restoran sandwich yang terkenal itu…

Disadari atau tidak, karena sering lihat logo dan merek produk tertentu ditempatkan di drama korea, terkadang kita sampai mencari tau tentangnya. Dalam ilmu marketing, penempatan sebuah produk atau brand yang disisipkan ke dalam media atau karya lain, seperti film atau program televisi dalam rangka promosi disebut dengan strategi product placement (PPL). Beberapa PPL ada yang dilakukan dengan halus dan implisit, beberapa ada yang ditampilkan secara terang-terangan dan aktif.

Menurut marketing.co.id, tujuan PPL untuk mencuri perhatian penonton dan mempengaruhi brand attitude . Produk atau brand yang disandingkan dengan karakter atau pengaturan yang menarik cenderung lebih menarik bagi orang. PPL dianggap sebagai salah satu strategi yang efektif karena memungkinkan audiens untuk mengembangkn hubungan yang lebih dengan produk atau brand dengan cara yang lebih alami, dibandingkan langsung dipasarkan.

Walaupun PPL merupakan salah satu pendapatan drama, kemunculannya yang kadang akan tibasamar-samar itu kadang dianggap menganggu dan bahkan memicu protes penoton. Hal ini dikarenakan karena penempatan PPL tertentu yang tidak wajar dan memaksa. Seperti misalnya di The King of Eternal Monarch, King Lee Gon kalo pergi ke dunianya Jung Tae-eul selalu makan ayam goreng dan meminum kopi merek tertentu.

Ya jujur sih, untuk PPL brand makanan dibanding dianggap menganggu malah bikin lapar. Agak ribet juga nih kalo sudah sampai terpengaruh pengen coba atau punya produk atau brand tertentu. Antara mahal dan kalo pengen cuman ada di Korea doang. Kan ribet tuh… Kalo Ibu yang yang demen nonton drakor gimana nih? Sudah beli produk atau brand apa karena “terpengaruh” PPL-nya?

Next artikel kita ngobrol tentang strategi pemasaran lain yang pastinya bisa Ibu pakai nih, endorsement . Apakah perlu endorse dengan selebgram? Atau cukup endorse di circle kita saja tapi sering? :blush:

6 Likes

Hai Ibu @Qoni

Cakep yah mereka PPL di drakor, lebih subtle gituh beda sama di sinetron kita hehehehe… Kalo produk aku sih pengennya Rafinagita yah, tapi merinding liat Rate Card nya :rofl: Jadi sementara endorse produk ke teman yang aktif ber socmed hihi alhamdulillah positif juga buat tumbuh organik. Thanks for sharing Bu :slight_smile:

1 Like

Akuuuu termasuk yang laper mata kalo abis lihat product placement di Drakor nih Bu @Qoni :rofl:

Waktu abis nonton Crash Landing On You, seminggu bisa berapa kali makan ayam goreng. Berhubung ngga ada merek yang dijadikan product placement, ku ganti jadi fried chicken S*bana deh :rofl: :rofl: :rofl:

Wah insightnya Bu @Feby juga menarik nih! Terkadang justru lebih kabita kalo ngeliat temen sendiri ya Bu :heart_eyes: Jadi kalau budgetnya belum memungkinkan untuk endorse selebgram, bisa dipikirkan untuk ‘endorse’ temen-temen kita sendiri :heart:

1 Like