Sering Menunda Pekerjaan? Hati-hati Bahaya Prokrastinasi!

Ibupreneur ingat scene di kartun spongebob di mana ia diharuskan menyelesaikan esai di hari itu? Namun, si spongebob tergoda untuk melakukan hal tidak penting hingga waktunya terbuang sia-sia. Paniklah spongebob ketika sudah 4 jam berlalu ternyata dia hanya menulis kata “The” di atas kertas!

essay-procrastination
sumber: www.tenor.com

Inilah yang disebut dengan Prokrastinasi (Procrastination) yang berasal dari bahasa latin procrastinare yang artinya menangguhkan sampai besok. Entah besoknya sampai kapan. Kalau dalam kasusnya ibupreneur mungkin ilustrasinya lebih seperti ini:

Ibu penulis lihat laptop, ingin menumpahkan isi tulisan. Lalu browsing untuk cari ide dan referensi, eh tergoda untuk buka media sosial. Jadilah ibu menghabiskan waktu scroll-scroll sosmed, bukannya tulisan yang didapat (red: nangis pas udah deket deadline)

Siapa yang sering begini ngacung Ibupreneur? (red: tunjuk diri sendiri :D) Bila ada tanda-tanda prokrastinasi, jangan disepelekan ya Bu. Karena bila dibiarkan akan menjadi kronis (red: seperti penyakit aja) sehingga mengancam masa depan kita dan menghambat kesuksesan kita.

Apasih tanda-tanda prokrastinasi?

Coba deh Bu dicek diri kita masing-masing adakah kecenderungan perilaku prokrastinasi dengan tanda-tanda berikut:

  • Punya seribu alasan untuk menunda pekerjaan
  • Keterlambatan dalam mengumpulkan pekerjaan
  • Kesenjangan antara rencana dan kinerja aktual
  • Lebih memilih aktivitas lain yang menyenangkan daripada menyelesaikan pekerjaan
  • Mengulang perilaku prokrastinasi

Eiittss ada lagi versi detailnya untuk mengetahui seberapa kronik perilaku prokrastinasi kita lho Bu! Bisa nih diintip kuis dan tesnya di link berikut:


Sumber: www.twitter.com

Ketahui sebabnya! Pangkas sampai akarnya!

Ternyata, prokrastinasi ini tidak sama dengan kemalasan karena masih dilandasi keinginan untuk mengerjakan tetapi tergoda dengan aktivitas lain yang lebih menyenangkan saat itu. Di dalam pikirannya terbayang terus-menerus akan pekerjaan/tugas yang selalu dianggap sebagai ancaman. Akibatnya otak kita cenderung merespon ancaman tersebut sebagai hal yang harus disingkirkan sehingga timbullah keinginan untuk menunda dan memilih untuk mengerjakan aktivitas lain yang merangsang kesenangan saat itu yang sifatnya melegakan. Meskipun sebenarnya mereka sadar, menumpuk pekerjaan hanya akan meningkatkan stres di kemudian hari.

Hasil penelitian dari Dr. Tim Pychyl dari Universitas Ottawa, memaparkan hal yang mencengangkan bahwa ternyata prokrastinasi ini kaitannya dengan regulasi emosi, bukan pada kesalahan managemen waktu. Lebih jauh, Dr. Fuschia Sirois dari Universitas Sheffield mengatakan adanya ketidakmampuan dalam mengelola mood negatif dari suatu pekerjaan pada perilaku prokrastinasi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya kebosanan, kecemasan, ketakutan akan kegagalan, frustasi, penyesalan, keraguan terhadap kemampuan diri sendiri dan rendahnya kepercayaan diri. Faktor-faktor inilah yang akan menurunkan motivasi seseorang dalam memulai melakukan pekerjaan. Prokrastinator cenderung menyukai aktivitas yang mendatangkan mood positif secara instan di depan mata dibandingkan aktivitas yang belum kelihatan reward nya saat itu.

Bahaya prokrastinasi

Stres yang berkepanjangan diakibatkan oleh pekerjaan yang menumpuk yang menuntut untuk diselesaikan segera tentunya berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Kecemasan, kepuasan hidup yang rendah dan stres yang kronik akan memicu gejala depresi. Penyakit mental ini akan berkembang mempengaruhi kondisi kesehatan fisik mulai dari insomnia, potensi tekanan darah tinggi hingga penyakit jantung.

Terus gimana dong caranya berhenti dari kebiasaan buruk menunda?

Menurut ilmu psikologi, dilihat dari penyebab penundaan itu sendiri, maka solusi pertama adalah strategi mengontrol diri dengan memberikan reward yang lebih menarik kepada diri sendiri daripada perasaan lega yang diperoleh dari menghindari pekerjaan.

Langkah-langkah berikut mungkin dapat dicoba:

  1. Mencoba memaafkan diri sendiri atas ketidakmampuan diri dalam beradaptasi di masa lalu.
  2. Berdamai dengan diri sendiri dengan memaklumi kesalahan dan kegagalan-kegagalan yang pernah terjadi.
  3. Lebih menonjolkan sisi positif dari pekerjaan yang menjadi target agar tampak lebih tempting untuk diselesaikan segera.
  4. Lebih kepo terhadap perilaku prokrastinasi diri sendiri. Artinya Bu, kita gali terus godaan apa yang menghambat kita untuk melakukan pekerjaan? Pada situasi kapan dan di mana kita terfikir untuk mengalihkan fokus dan perhatian dari pekerjaan? Penyebab utama kita menunda berulang-ulang itu lebih karena faktor apa?
  5. Mengeliminasi distraksi dari pandangan kita. Misalkan jika godaan itu datang dari media sosial, maka ciptakan waktu khusus untuk mematikan gadget kita sementara waktu.

Barulah pada step berikutnya dimulai dengan langkah managemen diri dan waktu, seperti:

  1. Membuat target-target sederhana dan realistis untuk dicapai setiap harinya

  2. Membuat perencanaan yang lebih terperinci untuk membuat pekerjaan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan

  3. Memonitor progres kita dari waktu ke waktu

  4. Memberikan deadline pada setiap target kita tadi

  5. Membuat rencana back-up apabila muncul hambatan-hambatan selama melakukan pekerjaan.

Ibupreneur juga bisa mengandalkan aplikasi seperti sensa.health, virtuemap atau aplikasi time-management lainnya untuk memudahkan ibu mengatasi perilaku prokrastinasi ini.

Semoga tips-tips di atas bisa membantu ibupreneur dalam menghilangkan kebiasaan menunda ya Bu sehingga ibupreneur bisa meraih mimpi-mimpinya lebih cepat. Ibupreneur ada yang punya pengalaman serupa dan berhasil keluar dari loop kebiasaan menunda ini? Share di kolom bawah ini ya Bu!

Referensi:
https://solvingprocrastination.com/laziness/



Book review by Anne Blake; The Procrastination Equation: How to Stop Putting Things Off and Start Getting Stuff Done by Piers Steel, Performance Improvement, 2019, 58, 3
4 Likes

Buuu ini baguss dan lengkap bangettt :heart: :heart:

langsung berusaha nerapin krn lagi ngalamin bgtt hahaha makasih ya buu, jd tersadarkan agar gak terlalu lama kyk gini berkat artikelnya! :heart_eyes:

1 Like

Makasih Bu Ranai :kissing_heart:

Motivasi menulisnya didasari pengalaman pribadi soalnya Bu. Baca-baca referensi tentang masalah ini, sampai ketemu solusi-solusi yang praktikal.Biar jadi pengingat diri, bukan sekedar menulis tetapi juga menerapkan ke diri sendiri.

Eh pas posting ini, ternyata sudah pernah ada yang post topik serupa dan ada materi podcast nya dari Bu Marisa :heart: :heart:

Bu Ayu,makasih yaa artikelnya self reminder bangeet… :purple_heart:

1 Like

Sama-sama Bu Afina :heart:
Self-reminder buatku juga ini :smiley: