The Power of Story! Lakukan Baby Steps Ini Untuk Cerita Brandmu

the struggle

Woow njelimet uga yah Buu…Memang bikin tulisan itu susah susah gampang, sekarang pun buat caption masih sering bingung mau cerita apa, giliran panjang malah kaya curhat.

"BISA KARENA BIASA" - my fav mantra

Ibu bisa berlatih cara bercerita di media digital dengan baby steps ini lho. Teknik yang juga masih dipakai oleh Ibu Indira Dhian Saraswaty (Pemimpin Redaksi Nova & Parapuan) yang dibagi di kelas “Membuat Tulisan Yang Bercerita di Media Digital” FEMPI 2021.

Ibu-ibu kayanya bisa relate nih, ketika kita menyelipkan pesan “sponsor” ke dalam cerita atau sengaja memilih buku cerita yang pesannya pas dengan kita supaya si kecil mau berubah perilakunya. Biasanya lebih efektif dibandingkan kita pakai kalimat langsung ke anak.

Nah, itulah kekuatan cerita, membangkitkan emosi membuatnya mudah diingat, cerita juga menciptakan kesadaran dan memicu suatu aksi tertentu karena audience merasa terhubung dengan cerita itu.

Coba yu, kita gali ide. Kira-kira seperti apa persona (karakter) dan apa problem yang ia hadapi? kita bikin yang cocok dengan brand kita. TIPS: Bikin berdasarkan real people with real problem yah Ibu.

Tenang, ga usah sampai bikin cerpen tapi dengan ide dasarpun kamu bisa membuat tulisan bercerita kok. Nah, Ibu Indira yang sudah berpengalaman di dunia jurnalis dan media membagi caranya dalam empat tahap ini:

1. Tentukan Tujuan.
Apa output yang ingin Ibu dapat setelah audience membaca tulisanmu? Apakah kesadaran mereka bertambah, tertarik, ikut berpikir tentang suatu hal, membuat konsumen setia dengan produk, dan banyak hal lainnya.

Misalkan minggu depan kita akan launching produk cemilan sehat baru, nah mulai ngobrol deh dari konten sebelumnya tentang cemilan dan makanan sehat misalnya, untuk menggiring audience bersiap ketika kita launching.

2. Persiapan Dasar
Mempersiapkan konten dengan matang itu lebih baik, dibandingkan spontan setiap waktu ketika jadwal mau upload. Dengan persiapan kita bisa cek ricek dulu, kualitas tulisan juga terjaga, apalagi mengingat jejak digital akan tetap bisa dicari kalau ada kesalahan (lalu diserbu netizen, horor!).

Di tahap ini juga kita menentukan channel apa saja yang dipakai, dan menyesuaikan konten dengan karakter audience di platform yang berbeda. Pilihlah channel yang paling banyak audiencemu pakai, ga melulu instagram, bahkan ada teman Ibupreneur saya mendapatkan sales jauh lebih banyak lewat status whatsapp.

Penting juga nih, research kapan waktu yang paling pas dengan audience-mu. Sayangkan udah cape-cape bercerita eh ternyata target audience Ibu tidak aktif di jam-jam sekitar itu.

3. Eksekusi
Batching konten itu game changer banget! Ada yang udah coba Buu?

Bikin banyak konten dalam satu waktu buat stok selama seminggu, dua minggu atau sebulan (wow ambisius). Lebih efisien dan Ibu bisa melihat jelas keterkaitan antar satu konten dengan lainnya. Gunakan media content management tool buat upload konten secara otomatis, lalu Ibu bisa fokus dengan engagement seperti memperluas jangkauan audience dan berinteraksi di kolom komentar.

4. Evaluasi
Nah penting ini, supaya dari hasil evaluasi kita bisa melakukan perbaikan atau penyesuaian di konten berikutnya. Cek di tools masing-masing platform, gimana sih reach, pageviews dan apakah brand voice kita senada di semua media?

Syudah cukup panjang kayanya tulisanku hehehe, semoga oleh-oleh dari FEMPI 2021 bisa kita praktekkan yah. Ibupreneur ada yang sudah memulai buat tulisan bercerita belum? share disiniii yah biar bisa dikepoin Ibupreneur lainnya :smile: :star_struck: Selamat mencoba!

2 Likes