Cara Mengoptimalkan Potensi Diri dengan Self-love

Hai Ibu semua!

Belakangan ini, kita sering ya denger kata ‘Self-love’. Tapi, apa sih arti self-love itu sebenernya? Nah Kamis besok (20/8/2020), jam 19.00-20.00 WIB, akan ada ibu Rastrianez di livechat #AhliAmbilAlih. Founder dari @talktocoach ini akan bicara soal Self-love dan gimana cara mengoptimalkan potensi diri dengan self-love.

Kalau ibu mau bertanya seputar hal ini, sudah bisa mulai tulis pertanyaan di bawah ini ya bu!

10 Likes

terima kasih ibu @dindajou sudah membuka dan memfasilitasi sesi kece ini.
Berikut ada materi dari coach @Rastrianez yang bisa ibu tonton plus baca dulu sebelum sesi live chat besok supaya kita sama-sama lebih mengerti “self-love” apa sih yang akan kita bahas. Dari materi ini mungkin ibu juga jadi ada inspirasi untuk bertanya :heart_eyes:

11 Likes

Hey Ibu @Rastrianez,

Aku mau tanya nih, terkadang kan ada masanya dimana kita jahat banget sama diri sendiri kalau memang dari awal kita set ekspektasi yang tinggi untuk diri sendiri namun tidak tercapai. Jadi ada tendensi untuk self-sabotage.

Karena aku melihat terkadang Risk yang paling besar dalam bisnis yang kita buat itu bukan datang dari luar tapi datang dari internal kita sendiri, karena keraguan diri akan potensi yang ada didalam diri.

Bagaimana sih caranya agar kita aware dengan perasaan self-sabotage?
Lalu apa yang harus dilakukan sudah disadari?

Makasiiih bu :heart:

4 Likes

Hai Ibu @Rastrianez :heart:

Salam kenal, aku Raras :slight_smile: Terimakasih banyak Ibu atas materinya, sangat menarik! Ada yang aku ingin tanyakan, tapi sebelumnya aku kasih prolog dulu ya hehe.

Kegiatanku sehari-hari seperti ibu rumah tangga pada umumnya, plus bekerja dari rumah sebagai freelance illustrator. Saat ini aku berdomisili di Jepang karena sedang ikut suami kerja sampai beberapa tahun kedepan. Aku senang tinggal di Jepang karena fasilitas umum sangat baik, kebersihan dan keamanan pun ga perlu diragukan lagi. Tapi di sisi lain, aku belum punya teman dekat di sini. Bahkan setelah beberapa tahun kenal dengan orang-orang Indonesia lain, aku masih merasa butuh teman. Untuk dekat dengan orang Jepang pun sangat susah. Kondisi ini sering membuatku jadi stressful, kehilangan napsu makan, dan malah berujung terlalu banyak makan yang manis-manis. Sampai sekarang masih sering kesulitan meredakan stress tersebut. Suamiku sangat suportif terhadapku, tapi sepertinya untuk memiliki teman dekat yang bisa ditemui langsung itu memang sebuah kebutuhan tersendiri. Pertanyaannya, berkaitan dengan kondisiku, apakah self-love bisa membuatku merasa lebih baik? Kalau bisa, apa ya contoh real yang bisa aku lakukan?

Terimakasih Ibu :slight_smile:

2 Likes

Halo Ibu @dindajou & @Rastrianez
Terima kasih sudah mengangkat topik ini (Self Love).Pas banget krn akhir-akhir ini aku lg suka baca tentang Self Love. Bagaimana kita acceptance diri kita dengan ( strengthness + weakness) dan punya semangat atau motivasi utk optimasi diri. Yang jadi pertanyaanku, gimsns ngebedain self love yg menerima diri dengan self love karena masa lalu misalnya trauma. Salah satu di inner circleku ada yg trauma dgn masa lalu ( divorce) krn banyak bgt kekecewaan dia jdnya bnr2 fokus pd dirinya, dan mnrtku kdng mengarah ke selfish. Jadi mnrt coach gimana sih batasan Self Love itu? makasi :innocent:

3 Likes

Halo ibu @Rastrianez

Aku punya pertanyaan, bagaimana caranya membuat “SHIELD” saat ada masalah dari luar datang lalu kita tetap bertahan berada di posisi love, bisa tenang, fokus terhadap value diri sendiri, dan keep going menuju goals kita? karena kalau ada masalah yg sama datang, aku suka kembali lagi ke proses understanding, acceptance, self esteem turun lagi, ga yakin dengan goals yang sudah di set sebelumnya. rasanya seperti ga lulus-lulus :sweat_smile:

Terima kasih

2 Likes

Hai Ibu @Rastrianez, terima kasih videonya sangat bermanfaat dan membuka kesadaran bahwa self love sangat penting dalam pengembangan diri dan bisnis, saya izin bertanya bagaimana kalau hal-hal di sekitar kita bertentangan dengan nilai-nilai yang kita anut, bagaimana bisa menerimanya? karena sering hal-hal ini jadi self-talk negative di saya dan juga saya tidak punya kuasa untuk mengubahnya, dan Ibu satu lagi pertanyaaannya bagaimana cara daftar kelas online coachnya?

Terima Kasih Ibu.

2 Likes

Hi ibu @Rastrianez thankyou for sharing. Im trying to love my self, but it’s so hard and i hate it. Aku terlalu takut dan pengecut untuk cinta diri sendiri. Even i dont know me and didnt trust with my self (but now im trying) . Entah kenapa, ketika berpikir that i have to love my own self tapi sll aja ada pikiran terbesit, “selfish” dan sering kali takut disangka “kepedean lah” “narsis” dll.
I hate it. Tapi susah. Sering kali aku malah merasa useless :’)

3 Likes

Waaah, setelah liat slide, langsung banyak pertanyaan yang bikin hati gremet-gremet nih! Terimakasih ibu @marisa @Raras @opinsitanggang @naninda @YohannaJ dan bu @Amimee. Siap-siap yaaa… dalam 15 menit ini, sesi livechat dengan ibu @Rastrianez akan dimulai.

Buat ibu lain yang masih pengen nanya, masih boleh loh yaaa! Silahkaan dikeluarin semua isi hatinya buuuuuu

3 Likes

Hai ibu @rastrianez , salam kenal saya Rizqif, bu saya sempat melakukan survey kepada para ibu yang seumuran saya dalam satu komunitas, terkadang semua mengerti apa yang disebut passion, tapi mereka merasa tidak punya passion bagaimana cara kita menjembatani mereka untuk menemukan passion mereka? Karena jika ditanya apa yang paling disukai mereka selalu bingung.

Dan apa sih yang menyebabkan seseorang merasa bingung apa passionnya?

Hihihi mohon pencerahannya bu… mungkin sedikit meleset dari materi tapi aku merasa self love itu erat kaitannya dengan passion. Mohon pencerahannya ibu.

2 Likes

Terima kasih atas pertanyaannya Ibu-Ibu.

Senang sekali banyak yang bertanya, aku coba bantu jawab ya :slight_smile:

Tapi Bu, cara menjawab aku agak sedikit berbeda nih, jangan heran ya Bu kalau aku balik bertanya, karena dalam topik ini tidak ada ‘one shoes fit for all’. Tujuan aku bertanya adalah agar Ibu-Ibu dapat refleksi ke diri sendiri, sehingga cukup menjawab pertanyaan yang aku ajukan kepada diri sendiri. Jika memang berkenan dan ingin sharing kepada semuanya juga boleh, silakan Ibu pilih mana yang paling nyaman untuk Ibu.

7 Likes

Ibu Marisa,

Self-sabotage yang Ibu maksud itu, aktivitasnya seperti apa?

Juga jahat sama diri sendiri yang Ibu maksud seperti apa?

Kalau yang aku tangkap dari cerita Bu Marisa, sabotase yang dimaksud adalah keraguan atas potensi diri yang membuat Ibu tidak bisa meraih ekspektasi kita yang tinggi ya Bu? Artinya, RASA RAGU inilah yang menjadi alasan bahwa kita tidak bisa menggapai mimpi kita, apa betul?

Salah satu cara untuk aware/sadar dengan pikiran atau perasaan kita adalah dengan melihatnya dari kacamata orang ketiga. Aku boleh menyarankan, ketika dan setiap Ibu merasa ragu atau takut, coba di dokumentasikan. Misalnya: Ibu bisa menuliskan dalam Jurnal, ataupun merekamnya dalam bentuk video/audio. Tujuannya, adalah agar Ibu bisa menuangkan dulu segala pikiran dan perasaan, hingga bisa merasa lega. Seperti curhat ke teman sendiri Bu, hanya saja kita rekam.

Rekaman demi rekaman, lama-lama Ibu akan memiliki “history” atau cerita di masa lalu yang bisa Ibu lihat/tonton/dengar kembali di masa yang akan datang, dalam keadaan yang lebih netral. Tujuannya, adalah agar Ibu-Ibu bisa melihat curhatan diri sendiri tanpa terbawa suasana, sehingga Ibu-Ibu bisa lebih objektif dengan pikiran dan perasaan sendiri. Bisa jadi, setelah melihat/menonton/mendengar beberapa rekaman tersebut, Ibu akan menemukan sebuah “pola”. Pada saat ini, mungkin Ibu mulai “sadar”, dan berada dalam tahap SELF-AWARENESS.

Dari pola tadi, Ibu-Ibu mungkin akan menemukan “tema” dari pola tersebut. Misalnya: Ibu lebih banyak ragu karena tidak percaya diri, atau Ibu lebih banyak ragu karena Ibu tidak percaya dengan partner kerja Ibu. Pada akhirnya, Ibu bisa menyimpulkan apa alasan dari rasa ragu ini. Apakah faktor internal atau faktor external? Ketika Ibu paham alasan Ibu Ragu karena apa, dan mulai mengerti di masa-masa mendatang, pada tahap ini ketika Ibu sudah mengetahui apa faktor yang melatarbelakangi perasaan Ibu, sebenarnya Ibu berada dalam tahap SELF-UNDERSTANDING.

Di saat ini, Ibu mulai mengerti diri sendiri. Dan Ibu bisa mulai “menyadari” dan “memahami” lagi aspek-aspek lainnya. Semakin Ibu kenal dengan diri, dan memahami diri sendiri, Ibu bisa mulai belajar untuk menerima kelebihan dan kekurangan. Be gentle with self, without judgement and self-limiting beliefs. Di saat ini Ibu sudah mulai bisa menerima, atau berada dalam tahap SELF-ACCEPTANCE.

Semakin lama dan sering Ibu melatih rasa penerimaan diri, embrace yourself and your surroundings, lama kelamaan Ibu bisa mencintai diri Ibu, dan pada tahap ini Ibu bisa berada dalam tahap SELF-LOVE.

Kira-kira begitu Bu perjalanannya. To summarize, mulai aware/sadarnya darimana? Belajar mengobservasi pikiran dan perasaan sendiri, ketika bentuk Self-Sabotage yang Ibu definisikan dalam jurnal/video/audio dari curhatan Ibu muncul, pelan-pelan belajar untuk tidak terbawa dengan pikiran dan perasaan itu. Stop - Aware - Assess - Response.

Semoga cukup menjawab ya Bu :smiling_face_with_three_hearts:

8 Likes

Ibu Raras,

Terima kasih telah berbagi cerita.

Pada dasarnya, self-love adalah keadaan dimana Ibu mengetahui apa yang Ibu inginkan dan butuhkan, apa alasan/kenapa Ibu menginginkan dan butuhkan tersebut, dan bisa menerima hal-hal yang bisa kita kontrol dan tidak bisa kita kontrol. Barulah setelah melatih tahapan-tahapan ini secara terus menerus dan sadar, layaknya sebuah habit , maka Ibu akan bisa semakin “cinta” dengan diri sendiri.

Dalam hal ini, mungkin aku akan mencoba menggali pikiran Ibu.

Apa yang Ibu cari dari keadaan “butuh memiliki teman dekat yang bisa ditemui langsung” tersebut?

Apa butuh teman cerita, apa butuh teman yang bisa memberikan a shoulder to cry on , atau membutuhkan teman yang satu frekuensi untuk mendiskusikan hal-hal tertentu?

Dengan mengetahui apa yang Ibu butuhkan, kita bisa mencari problem solving yang lebih tepat sasaran. Misalnya Ibu membutuhkan teman yang satu frekuensi untuk mendiskusikan hal-hal yang Ibu suka, misalnya hobi memasak. Tapi ternyata selama ini Ibu mencari teman dari sosial media yang mungkin hobinya adalah jalan-jalan. Mungkin ada gap dalam hal ini, sehingga tantangan yang sedang Ibu hadapi belum “terpenuhi”.

Semakin tajam kita bisa memahami kebutuhan kita, maka kita dapat mencari solusi untuk kebutuhan tersebut yang lebih tepat sasaran. Nantinya akan ada strategi-strategi yang mungkin bisa Ibu susun sendiri untuk dicoba.

Apa yang bisa Ibu lakukan, masih mirip dengan jawaban aku terhadap pertanyaan dari Ibu Marisa. Setiap Ibu merasa stress , boleh dicoba untuk didokumentasikan Bu. Tidak perlu berusaha untuk memahami keadaan saat itu juga, ketika kita sedang merasa stress . Paling tidak “keluarkan” dulu dan coba kita dengarkat di lain waktu ketika dalam mood yang baik dan netral, jadilah teman dan pendengar yang baik bagi diri kita yang sedang merasa stress . Dengan begitu, Ibu bisa lebih objektif dalam memahami diri sendiri, artinya tidak terbawa perasaan di saat itu juga.

Semoga cukup membantu Bu, barangkali dengan komunitas online seperti ini bisa membantu Ibu untuk merasa lebih baik dengan memiliki teman-teman sharing ya :blush:

8 Likes

Ibu @Rastrianez

Kalimat ‘Mungkin ada gap dalam hal ini, sehingga tantangan yang sedang Ibu hadapi belum “terpenuhi”.’ ini ngena banget bu. Mksh byk sudah menyempatkan membalas bu :heart:

2 Likes

Ibu Opinsitanggang,

Terima kasih telah berbagi cerita.

Buat aku Bu, mudahnya apa yang membedakan antara Self-Love dengan Selfish adalah apa tujuan untuk fokus terhadap diri sendiri, dan apa efek samping/pengaruh dari fokus pada diri sendiri terhadap orang lain/lingkungan sekitar kita.

Misalnya: kita tidak datang ke sebuah acara penting karena kita tahu diri kita butuh istirahat setelah seminggu penuh melakukan hal-hal yang melelahkan. Jika ketidakhadiran kita tidak menyakiti/merugikan orang lain, maka kita sedang melakukan Self-Care (merawat diri sendiri untuk istirahat) sebagai salah satu bentuk Self-Love. Akan tetapi, jika kita tidak hadir dan malah merugikan orang lain, atau menyulitkan orang lain misalnya karena harus mengambil alih pekerjaan kita yang tidak dimengertinya, maka kemungkinan besar kita akan dilihat sebagai orang yang Selfish. Jadi kacamatanya aja Bu yang agak berbeda, dan bagaimana perilaku kita mempengaruhi orang lain.

Kemudian, sedikit membahas tentang kekecewaan, aku ingin memberikan pertanyaan yang mungkin bisa dijadikan refleksi.

Selama ini, apa hal yang membuat kecewa hingga akhirnya trauma dengan masa lalu? Apakah hal tersebut adalah hal yang bisa kita kontrol atau tidak? Apabila tidak bisa kita kontrol, apakah kita akan membiarkan dunia luar/faktor eksternal untuk menentukan apakah kita akan bahagia atau tidak?

Aku izin sharing artikel yang bisa Ibu akses untuk mendalami perbedaan antara Self-Love dan Selfish ya Bu, cukup lengkap dan mudah dicerna, juga based on expert point-of-view , dalam dari keilmuan positive psychology :

Semoga cukup membantu ya Bu :relaxed:

5 Likes

wah… menarik sekali penjelasan bu @Rastrianez. Sepertinya kebiasan mendokumentasikan perasaan dengan jurnal atau rekaman video/audio ini sangat baik sekali untuk kita ya buibu. Dengan rajin mendokumentasikannya, kita bisa membaca pola diri kita dan bisa mulai langkah untuk SELF-AWARENESS.

4 Likes

Iniiiiii :’’)))))))) YaAllah thankyou ibu @Rastrianez

Ibu Naninda,

Aku mau sharing sebuah pemikiran yang aku dapatkan selama pandemi ini ya Bu, barangkali bisa menjawab pertanyaan ibu. Jadi, aku punya insight dari perjalananku sendiri bahwa:

Let your goal be the consequences of a small and consistent action

Dalam kacamata ini, aku tidak memfokuskan diriku pada Goal, tetapi lebih pada Proses apa, yang bagaimana, dan perasaan apa yang ingin aku jalani.

Sedikit cerita, di awal pandemi aku sempat merasa lesu dan lemah, karena selama ini aku sangat jarang olahraga dan menjaga makan. Aku sangat suka makan Bu, apalagi makanan enak (siapa yang tidak ya?). Tapi, ketika aku memiliki porsi makan yang sama sedangkan energi yang aku gunakan lebih sedikit, aku seringkali merasa mengantuk, badan terasa sangat berat, dan semakin malas untuk bergerak. Akhirnya aku memutuskan untuk lebih memilih makanan apa yang ingin aku makan, seperti memperbanyak sayur dan buah, mengurangi nasi, dan mengurangi minuman manis (resep umum ya Bu?), karena aku males olahraga hehehe.

Ternyata, selama 2-3 bulan aku menjalankan dengan ikhlas dan senang, berat badanku turun 3kg. Efeknya, paling tidak aku tidak mudah mengantuk atas efek gula dari nasi. Ketika badan merasa lebih ringan tapi kaku, aku mencoba untuk mencari video yoga yang gerakannya tidak berat, videonya di pantai (biar berasa liburan), dan guidance dari instrukturnya juga cocok. Nggak perlu lama, sehari 20 menit saja, mulai dari 3-4 kali seminggu. Setelah 2 minggu, aku tambah turun 2kg.

Gimana nggak makin semangat ya Bu? Aku melakukannya dengan ikhlas bukan karena “disuruh”, “paksaan”, atau ingin terlihat kurus bagi orang lain. Aku hanya ingin merasa lebih fit, dengan salah satu ciri-cirinya adalah tidak mudah mengantuk. Di saat aku senang melakukan kegiatan kecil per hari-nya, tanpa sadar aku pun membangun habit yang lebih baik, dan lifestyle yang lebih sehat juga.

Singkat cerita, dalam hidup kita nggak perlu buru-buru atau memaksa diri untuk “lulus” Bu. Punya target boleh, akan tetapi kita perlu memahami juga apakah memang di perjalanannya, 100% prosesnya bisa kita kontrol, atau ada pengaruh hal-hal lain. Memahami risiko, memahami bahwa akan ada challenge , dan embrace menjalani tantangan tersebut, akan membuat kita lebih “siap” dalam berproses. Jadi kalau misalnya kita merasa Self-Esteem sedang turun, tidak apa Bu, stop dulu saja.

Bisa dicoba rumus ini - STAR: Stop, Think, Assess, Response.

Jika memang Ibu belum tahu apa sih trigger -nya yang membuat kita merasa down , tidak fokus, dan tidak tenang, mari ambil waktu sejenak untuk memahami lebih detil. Semakin kita tahu apa yang menghambat kita, kita bisa coba mencari solusi, dan kedepannya bisa menggunakan solusi yang sama.

Tidak perlu panik dengan masa depan Bu, karena sejujurnya masa depan memang tidak pasti dan tidak dapat di prediksi, meskipun kita sudah merencanakan sebaik-baiknya. Planning bisa membantu kita untuk bergerak, akan tetapi adaptasi, fleksibilitas, dan agility akan diperlukan dalam berproses.

Mindsetnya adalah: bagaimana aku bisa lebih baik dari diriku yang kemarin (atau sebelumnya)? Dengan begitu, Ibu akan fokus dengan prosesnya, dan tidak menjadikan Goal sebagai sebuah beban.

Mohon maaf panjang dan jadi curcol ya Bu, tapi semoga bisa menjadi insight dari real story -ku :smiling_face_with_three_hearts:

5 Likes

bu Yohanna,

Aku izin memberikan pertanyaan yang barangkali bisa membantu sedikit refleksi ya. Karena konteksnya sangat umum, sehingga saya tidak bisa langsung memberikan perspektif.

Apakah hal-hal yang berada disekitar kita, yang bertentangan dengan nilai-nilai yang kita anut, merugikan kita secara langsung?

Sebaliknya, apakah nilai-nilai yang kita anut, yang bertentangan dengan hal-hal yang mereka lakukan, merugikan mereka secara langsung?

Mengapa menurut Ibu, kita perlu untuk menerima “perbedaan” tersebut?

Hal apa yang membuat kita memiliki negatif self-talk ?

Pernahkah kita melihat dari kacamata orang di sekitar kita, mungkin mencoba memahami mengapa ia/mereka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kita?

Sedikit perspektif Bu, pada dasarnya, setiap manusia berangkat dari titik yang berbeda-beda, melalui jalan yang berbeda-beda, bertemu dengan lingkungan yang berbeda-beda, sehingga membentuk dirinya menjadi “berbeda” dari kita. Dalam kacamata humanity ini, terutama dengan latar belakang psikologi, kami memahami bahwa setiap orang berbeda, dan satu-satunya jalan adalah berusaha untuk berempati dengan orang lain yang mungkin berbeda dari kita. Namun, apakah “berbeda” ini memang artinya negatif, tidak sehat, atau merugikan diri kita?

Jika ya, let’s focus on what we can control .

Gampangnya nih Bu, misalnya kita sedang memulai bisnis, ada aja netizen +62 yang mungkin komentar pedes ataupun menggunjingkan kita (maklum, mungkin lagi ngerumpi). Padahal, dari bisnis Ibu, Ibu bisa menghasilkan pendapatan yang lumayan, bahkan bisa membantu ekonomi keluarga. Mana yang lebih penting untuk kita, membantu ekonomi keluarga atau mendengarkan celotehan yang membuat kita ragu akan diri kita sendiri atau melimitasi kemampuan kita?

Selama apa yang kita lakukan positif, sehat, tidak merugikan orang lain, saran saya nggak usah didengarkan Bu. Karena ketika Ibu sukses, bisa jadi mereka tetap menggunjingkan, ataupun mereka malah mendadak baik karena pengen ikut sukses atau ‘aji mumpung’ hehe.

Kalau Ibu ada concern yang ingin di diskusikan lebih private, silakan mengikuti sesi Coaching kami. Lebih jelasnya bagaimana cara mendaftar online coaching -nya, akan saya jelaskan di akhir dari sesi tanya jawab ini ya Bu, karena masih ada beberapa pertanyaan yang perlu saya jawab, biar nanti sekalian, hehe.

Semoga cukup membantu ya Bu :slight_smile:

4 Likes

Siap Ibu @Rastrianez, Terima kasih banyak atas jawabannya, seneng banget baca jawaban- jawaban dari Ibu dari pertanyaan Ibu-Ibu di sini, banyak hal yang mengena banget dan jadi tersadar betapa pentingnya self-love dan focus on what we can control.

2 Likes