QnA Kelas #JikaIbuMenjadi Freelance Writer

Hai, Bu. Terima kasih untuk tulisannya yaa.

Feedback dari aku, perhatikan cara penulisan huruf kapital karena aku lihat banyak huruf kapital di tengah kalimat yang sebetulnya nggak perlu seperti pendidikan, sekolah, dan pengajar. Jangan lupa juga perhatikan cara menulis kata seperti: aktifitas -> aktivitas dan merubah -> mengubah.
Perhatikan juga cara merangkai kata, seperti pada kalimat: saat kuliah target tahun menjadi list penting, nyatanya ini tidak mudah. Bisa diganti susunan kalimatnya karena pesan yang ingin disampaikan kurang sampai ke pembaca.

Semangat menulisnya, Bu :heart:

Baik Bu Nadia.
Terima Kasih atas koreksinya… :smiling_face_with_three_hearts:

Baik, Bu Nadia, terima kasih banyak yaah buat feedbacknyaa :hugs:

Halo bu @nadiasarahwdan ibu peserta JIM FW Januari 2023. Silahkan submit roleplay di sini ya bu :hugs:

2 Likes

Banyak perubahan yang terjadi saat menjadi ibu,mulai dari perubahan fisik,psikologis sampai dalam berinteraksi sosial. Berikut merupakan tips-tips agar menjadi ibu yang tetap sehat dan bahagia saat menyikapi perubahan yang terjadi pada ibu tersebut.

1 Like

Jika aku menjadi freelance writer…

Sebelum menikah, aku sudah berencana jika menikah lalu punya anak nanti tak ingin bekerja lagi di luar. Aku ingin fokus mengurus anak dan suami, namun tetap bisa berdaya dari rumah. Aku menikah dengan lelaki yang berbeda pulau, sehingga setelah menikah aku ikut menjadi warga pulaunya. Tinggal jauh dari orang tua dan mertua membuat aku dituntut lebih dewasa. Apalagi suamiku dengan pekerjaannya yang padat, membuat aku seorang diri yang lebih banyak mengurus bayiku. Waktuku tentu lebih banyak dengan bayi, aku merasa hidupku seperti hanya untuk anak dengan segala tantangannya yang tak mudah. Apalagi ketika suatu hari ada seseorang yang bertanya, “Di Bali cuma jadi ibu rumah tangga aja?” rasanya aku langsung baper, dan entah mendadak diri ini jadi merasa tak berharga. Padahal aku selalu ingat bahwa menjadi seorang ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang sangat mulia, yang belum tentu semua orang mampu menjalaninya dengan sabar dan ikhlas. Tapi ya sebagai perempuan aku pun ingin punya eksistensi diri, dengan menjadi sesuatu yang bermanfaat di luar bukan hanya bermanfaat di dalam rumah dan tentu bisa punya penghasilan sendiri. Keinginanku untuk bisa bekerja dari rumah masih selalu terngiang-ngiang, ingin sekali rasanya bisa punya ruang kerja sendiri di rumah dengan tetap bisa memantau anak, bekerja dengan tenang sambil memastikan anak baik-baik saja. Saat ini anakku sudah berusia empat tahun, sudah ikut kelas TPQ dan sebentar lagi Insyaallah sekolah TK A, aku punya waktu free lebih banyak saat ia berkegiatan di luar. Semoga tahun ini aku bisa mencapai salah satu keinginan besarku untuk bisa bekerja dari rumah. Beruntung bisa mengenal akun instagram Ibu punya mimpi di akhir tahun 2022 lalu Ikut kelas freelance writer di awal tahun 2023. Semoga bisa belajar banyak tentang freelance writer, dan cocok berkecimbung di dunianya.

Rizqiana Syafitri

1 Like

PERAN SUAMI BAGIKU, SEORANG IBU BARU

Sebagai ibu baru dengan 2 orang anak, yang berusia 5,5 tahun dan 1 bulan, banyak hal baru yang saya hadapi dan menjadi tantangan tersendiri.  Saya harus beradaptasi kembali untuk merawat bayi setelah jeda 5 tahun, membutuhkan kesiapan mental dan fisik yang prima.  Bantuan dari keluarga di sekitar, terutama suami menjadi hal utama yang dapat menjaga kewarasan saya sebagai ibu saat menghadapi anak anak. 
Suami siaga yang mendukung dan melayani kebutuhan saya selama hamil serta mendampingi selama proses kelahiran dan perawatan anak, merupakan support system yang utama untuk saya sebagai ibu.  Hal ini saya rasakan sendiri perbedaan nya ketika melahirkan anak pertama dan anak kedua.  Anak pertama saya dulu saya kurang mendapatkan perhatian penuh dari suami dikarenakan suami harus bekerja di luar kota, sehingga saya menjadi ibu hamil yang “mandiri”. Setelah melahirkan, saya sempat mengalami kebingungan dan baby blues saat mengurus bayi. Mungkin karena itu juga pengalaman pertama saya menjadi ibu.  Pada anak kedua ini, kehadiran suami terbukti mencegah saya dari baby blues. 
Memang apa sih yang dilakukan suami saya saat kehamilan kedua ini?  Hal-hal sederhana saja sebenarnya.  Seperti menjadi teman bercerita saat malam atau pagi sebelum suami bekerja, tidak memaksa saya melakukan pekerjaan rumah saat itu juga, membelikan makanan kesukaan, mengajak saya dan anak jalan-jalan, dan hal-hal sederhana yang sejenis.  Suami juga siap siaga mendampingi saya selama proses persalinan.   Saat saya pulang dari rumah sakit, suami mencarikan asisten yang bisa mengurusi kegiatan domestik di rumah dan memandikan bayi baru lahir.  Sehingga saya bisa fokus untuk pemulihan dan menikmati indahnya proses menjadi ibu baru untuk kedua kali.  Hal-hal itu terbukti dapat membantu saya menjalani hari-hari baru saya sebagai ibu baru dengan bahagia.  Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Deny Yuliawan (2014) dalam skripsinya yang menyimpulkan bahwa dukungan suami dapat meningkatkan kesejahteraan ibu nifas. 
Namun sayangnya, beberapa kendala dihadapi oleh suami saat menemani proses kelahiran, yaitu  ijin cuti di tempat bekerja.  Berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 tahun 2003 pasal 93 ayat 4 huruf e.   “Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak masuk bekerja karena istri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar untuk selama 2 hari.”  Kenyataan yang dihadapi suami adalah gaji selama cuti tetap dipotong oleh perusahaan tempat beliau bekerja.  Sungguh disayangkan, karena aplikasi dari peraturan undang undang yang tidak merata pada semua perusahaan.  Semoga ke depannya pemerintah terkait dapat mengawasi kembali mengenai implementasi undang-undang di lapangan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan.
Ternyata kenyataan di lapangan yang saya temui sedikit berbeda dengan yang saya alami.  Tidak semua ibu bersalin bisa seberuntung saya.   Sebagian suami menyerahkan pendampingan ibu pascabersalin kepada orangtua/mertua.  Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, hanya saja menurut saya  suami seharusnya menjadi orang yang paling nyaman bagi istri untuk berkeluh kesah dan mencari perhatian setelah mengalami perjuangan menghadapi kehamilan dan persalinan.  Hal ini demi kedamaian jiwa dan raga ibu.  Karena ibu yang bahagia adalah pondasi bagi tumbuhnya anak-anak yang bahagia.

Kriswandin19

2 Likes

Challange JIM Freelance Writer

Hal yang Hilang dan Kutemukan Setelah Menjadi Ibu

Menjadi ibu adalah hal paling luar biasa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Dimulai ketika hamil pertama kali, ada perasaan takjub yang belum pernah saya rasakan. Ketika menyadari bahwa tubuh saya dijadikan tuhan untuk mampu mengandung manusia lain lalu melahirkan, belum pernah terbayangkan sebelumnya. Sama dengan menyusui, segalanya terasa indah dan penuh kasih. Saya telah jatuh cinta pada bayi yang saya kandung bahkan sebelum dia lahir.

Setelah menjadi ibu, bersamaan dengan rasa suka cita karena kehadiran si kecil, datang pula rasa gundah dan ketakutan. Timbul pertanyaan dalam benak saya, ‘apakah saya sudah menjadi ibu yang baik?,’ khawatir kalau-kalau saya telah melakukan hal yang salah selama menjadi ibu. Bukti bahwa saya adalah ibu yang kebingungan adalah dengan membeli buku parenting ini itu, ikut kelas zoom sana sini, bahkan hampir setiap saat mencari di google jawaban dari apa yang harus saya lakukan pada bayi saya sendiri. Belum pernah saya temui modul yang judulnya ‘Cara Menjadi Ibu yang Baik dan Benar’ atau sekolah untuk menjadi ibu yang sempurna. Pada akhirnya saya putuskan bahwa ibu yang sempurna itu memang tidak ada, maka saya hanya akan memberikan yang terbaik sesuai kemampuan saya.

Sejak punya bayi saya tak pernah lagi terlalu sedih, karena selalu terhibur dengan tingkahnya yang lucu. Namun, bayi lucu ini tak hanya menyita perhatian saya. Dia seketika menjadi magnet kelucuan bagi semua orang. Tiba-tiba gawai saya banyak menerima panggilan video yang ketika diangkat tujuannya hanya ingin melihat apa yang sedang dilakukan si kecil. Begitu pula ayahnya, yang menelepon dari kantornya hanya untuk menanyakan kabar si bayi lucu. Lalu aku bagaimana?

Seketika perhatian yang aku terima ketika hamil jadi menghilang. Semua orang telah terhipnotis dengan kegemasan bayi yang kulahirkan. Begitu pula di luar rumah, ketika bertemu teman atau kenalan yang pertama kali ditanyakan adalah umur bayiku, jenis kelaminnya, apakah dia asi atau sufor, di mana dokter anaknya, sudah imunisasi atau belum, berat badannya berapa, sudah bisa apa saja, dan lain sebagainnya yang bukan tentang aku. Seketika orang-orang lupa bahwa aku juga individu yang punya kegiatan, kesukaan, atau setidaknya hal yang ingin ku bagikan. Sedikit demi sedikit aku merasa kehilangan jati diri dan validasi.

Tiba-tiba berat badanku yang belum kembali seperti ketika sebelum hamil menjadi masalah, begitu pula dengan stretch mark yang kudapatkan ketika hamil, lalu semua hal yang berubah setelah melahirkan menjadikan aku sering mengeluh. Karena merasa cemburu akan perhatian yang disita oleh bayiku dan merasa sudah tidak lagi diperhatikan aku melampiaskan kemarahanku kepada suamiku. Lambat laun aku menjadi orang yang berbeda, aku sudah tidak mengenal dan mencintai diriku lagi.

Setelah satu tahun lebih menjadi ibu lalu tersadar bahwa aku bukanlah orang yang mencintai diri sendiri seperti dulu, aku memutuskan untuk melakukan perubahan. Bahwa aku tak bisa terus-terusan mengasihani diri dengan tidak melakukan apapun. Akhirnya aku melakukan olahraga setiap pagi, makan sayur dan buah-buahan, menulis jurnal, membaca buku, merawat diri, semua kulakukan demi perubahan baik dalam diriku. Juga karena aku ingin hidup lama dengan anakku, aku ingin menjadi sehat untuk bisa terus menemaninya maka ini adalah hadiah terbaik yang bisa kulakukan untukku dan anakku, yaitu dengan menjalani pola hidup yang sehat. Perlahan aku menemukan diriku lagi. Perlahan aku jadi orang yang kucintai lagi. Orang yang positif dan periang serta optimis dalam menjalani hidup.

Aku percaya bahwa setelah menjadi ibu kita akan mengalami banyak hal yang membuat emosi kita naik turun. Kata orang setelah melahirkan kita pun turut dilahirkan kembali. Maka jalani prosesnya dengan sabar dan jangan pernah lupa untuk menjadi bahagia. Lakukan kebaikan dan tebarkan cinta kepada sesama sebanyak-banyaknya maka akan berlimpah pula cinta dan kasih sayang yang akan tertuju kepada kita. Karena ibu yang bahagia menciptakan keluarga yang bahagia pula.

2 Likes

Hi bu @nadiasarahw aku mau tanya terkait gaya bahasa apa saja yang perlu kita kuasai di video nomor 6. Lalu terkait copy dan content writer sama freelance writer bedanya apa bu?

2 Likes

Jika aku menjadi freelance writer

Dinda Kartika Vilaili - https://www.instagram.com/p/CoAT3_Avknd/?igshid=YmMyMTA2M2Y=

1 Like

Ikutan setor challenge ya Bu Nadia…

Hal-hal yang Baru Kusadari Sejak Jadi Ibu…

Halo, Ibu! Bagaimana pengalaman menjadi ibu sejauh ini? Senang, sedih, lelah, kesepian, stres atau lainnya? Tentu bukan hal yang mudah ketika banyak perubahan terjadi di saat kita baru menjadi ibu, tapi seiring berjalannya waktu pernahkah Ibu menyadari bahwa ada hal-hal yang mungkin tidak kita sadari sebelum jadi Ibu? Dari pengalaman saya, ini dia beberapa hal yang baru saya sadari ketika saya berubah status jadi ibu:

  1. Tersadar bahwa saya bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa dilakukan

Sebelum jadi ibu ngga kuat bergadang sampai malam, begitu jadi ibu rela bangun tengah malam demi menyusui anak atau pumping ASI. Sebelum jadi ibu, jarang ke dapur apalagi bisa masak, begitu jadi ibu mau belajar masak, rajin cari resep MPASI dan berbagai kreasi snack demi anak mau makan. Termasuk hal-hal lain yang bikin kagum sama diri sendiri: “wah ternyata saya bisa melakukan itu ya”.

  1. Tersadar bahwa saya bisa belajar dari mana saja, termasuk dari anak

Sebelum jadi ibu, tidak ada yang bilang bahwa jadi ibu ternyata harus senantiasa belajar dan belajar banyak hal. Mulai dari merawat anak yang sakit, mempelajari berbagai cara supaya anak mau makan dan berat badannya terjaga, menjawab berbagai pertanyaan anak yang kadang ajaib, dan lain-lain yang mungkin belum pernah kita pelajari sebelumnya. Beruntunglah saat ini banyak sekali media yang bisa digunakan untuk mencari informasi dan belajar, mulai tentang kesehatan anak, tumbuh kembang anak, menyiapkan dana pendidikan anak hingga belajar mengelola emosi anak dan orang tuanya supaya bisa mendampingi anak tanpa ngegas. Saya merasa beruntung dengan kemudahan akses yang ada saat ini, setelah jadi ibu hobi saya adalah ikut webinar dan kulwap (kuliah whatsapp) tentang berbagai topik. Ada yang sama, Bu?

Tidak hanya itu, pernah sadar tidak Bu terkadang kita justru belajar banyak dari anak kita sendiri lho. Dari anak yang tidak menyerah walau gagal menyusun balok berkali-kali, kita diingatkan lagi tentang kegigihan. Melihat anak berkreasi dengan bebas, kita belajar untuk mengasah kembali kreativitas kita. Dengan mengamati perilaku anak, saya kembali tersadar untuk belajar hal-hal yang mungkin sempat saya lupakan dulu.

  1. Tersadar bahwa saya berharga dan dicintai apa adanya

Siapa yang dulu sering merasa kurang percaya diri, sukanya melihat kekurangan diri sendiri dan tidak bisa apa-apa? Saya pernah, Ibu. Sebelum jadi ibu, saya sering sekali mengkritik diri sendiri. Semua berubah setelah jadi ibu. Ketika anak memandang saya dengan berbinar-binar saat saya mau bermain bersamanya, ketika anak memuji kalau ibunya tercantik sedunia (padahal waktu itu belum mandi, rambut awut-awutan dan pakai daster :grinning:), ketika anak bilang ibunya yang terhebat ketika kita mengajarinya suatu hal baru, dan hal-hal sederhana lainnya. Di situlah saya tersadar, bahwa anak menyayangi kita apa adanya, memandang kita sebagai sosok yang dia puja walau kadang suka kelepasan ngomel.

  1. Tersadar bahwa mimpi itu bukannya hilang tapi berubah bentuk

Sebelum jadi ibu, mungkin banyak mimpi-mimpi kita yang belum terwujud ya Bu. Setelah jadi ibu, awalnya mungkin kita kaget dan sedih karena merasa tidak mungkin mewujudkan mimpi-mimpi itu lagi. Tapi seiring anak mulai bertambah besar, saya menyadari bahwa mimpi-mimpi saya dulu itu tidak hilang namun bisa saya ubah bentuknya. Salah satu mimpi saya dulu adalah bisa kuliah di luar negeri, begitu punya anak saya sadar hal itu akan sulit dilakukan. Ketika pandemi melanda, saya pun memberanikan diri daftar kuliah di salah satu kampus dalam negeri yang metode kuliahnya full daring. Tentunya dengan izin dan dukungan dari suami. Jadi jangan hempaskan mimpi-mimpi itu ya Bu, bisa jadi kita hanya perlu mengubah atau memodifikasi mimpinya supaya kita tetap bisa mewujudkan mimpi sambil mengurus keluarga dan diri sendiri.

Itu dia beberapa hal yang saya sadari setelah jadi ibu. Menjadi ibu adalah komitmen seumur hidup, seiring berjalannya waktu akan semakin banyak hal-hal yang kita sadari dan kita dapatkan dalam perjalanan menjadi ibu. Bagaimana dengan Ibu? Hal-hal apa saja yang baru disadari setelah jadi Ibu?

Penulis: Diana Melissa

1 Like

Challange Jika Ibu Menjadi Freelance Writer

Jangan dibandingkan siapa yang lebih enak

Saya rasa semua pilihan akan membawa pada kemungkinan enak dan tidak enak. Jadi ibu Rumah Tangga (IRT), tidak juga menjadi lebih enak dari pada Ibu Pekerja/Ibu Pembisnis.

Semua Ibu sama-sama memiliki kerinduannya masing-masing. Ibu Rumah Tangga, akan rindu bagaimana dia dulu menghasilkan uang dan berdaya di ruang umum. Ibu Pekerja merindukan waktu bersama anak yang lebih lama untuk bisa menyaksikan pertumbuhannya.

Ibu Rumah Tangga dan Pekerja sama-sama memiliki peran yang berharga. Sama-sama bekerja, walau dalam bentuk penghasilan yang berbeda. Mungkin Ibu Rumah Tangga tidak bisa menghasilkan uang, tapi dia bisa menghasilkan waktu dan ruang yang lebih lama.

Pada dasarnya semua ibu mengorbankan dirinya untuk kebaikan anak-anaknya.

Jadi jangan bandingkan mana yang paling enak dan menyenangkan. Semua ibu pasti memiliki tantangannya, beratnya menjalani hari dan kerinduannya sendiri.

Satu yang harus dilakukan adalah mendukung sesama perempuan untuk bisa melaluinya. Karena kita tanpa support system bisa jadi kosong. Support yang diberikan dari lingkuan terdekat, dan terluar.

Kita butuh dukungan penuh dari suami dan keluarga untuk berperan pada keputusan yang sudah kita pilih. Apapun pilihannya, ibu tetaplah ibu. Justru sebagai ibu yang memiliki peran besar dalam stabilitas emosi keluarga dan kehangatan dirumah. Ibu harus memulai dengan berbahagia terlebih dahulu, menyadari apa yang ibu lakukan dan ambil untuk menjadikannya utuh.

Kita tidak perlu terburu-buru menjadi mereka, kita cukup menjadi diri kita saat ini yang berbahagia, sehat dan utuh.

1 Like

Challange Carousel instagram post

https://www.instagram.com/p/CoADJloLqf5/?igshid=NDk5N2NlZjQ=![image|281x500](upload://gxb3yswMHoNXyHgauUjCHRqAHTK.jpeg)

1 Like

Haiii ibu peserta JIM FW, salam kenal :wave:

Ikutan submit challenge yaah, silakan mampir:

Semangat ngerjain roleplay ya bu :sparkling_heart:

1 Like

7 Hal Receh yang Dikangenin Setelah Punya Anak

Menjadi seorang ibu adalah anugerah Tuhan yang luar biasa. Hati seorang ibu terasa ‘penuh’ dengan hadirnya anak di kehidupan kita. Untuk seorang ibu, bisa ndusel-ndusel dengan anak di kasur atau membersamai tumbuh kembang anak, sangat membahagiakan and we won’t trade off with anything in our lives!

Namun, tidak dapat dipungkiri ada beberapa hal yang biasanya ibu rindukan dari diri sendiri ketika lajang atau sebelum punya anak. Hal-hal kecil tapi kok rasanya dulu taken for granted dan baru terasa kangennya sekarang. Yuk, simak 7 hal yang biasanya ibu kangenin setelah punya anak!

1. Bisa menikmati makanan dan minuman selagi hangat dan tanpa gangguan
Baru duduk dan siap menyisip teh hangat, si kakak bilang ingin buang air besar. Baru mulai makan mie, adik bayi teriak nangis. Hiks! Pengen, deh, bisa makan/minum selagi hangat hingga tuntas tanpa gangguan.

  1. Bisa tenang beraktivitas di kamar mandi
    Sejak punya anak, rasanya sulit untuk ibu bisa self-care di kamar mandi dengan tenang. Jangankan bisa mandi sambil luluran dan hair spa, terkadang waktu buang air saja pintu kamar mandi ibu sudah digedor-gedor anak.

3. Menikmati quiet time di rumah
Suasana rumah yang hening dan tenang juga biasanya ibu rindukan. Setelah memiliki anak, rumah kita ramai dengan suara tangis, teriakan, tantrum, bunyi mainan yang nyaring, hingga panggilan “Mama! Mama! Mama!” yang entah ke sekian puluh kalinya di hari itu. Selain membuat kepala menjadi penat, bisa konsentrasi atau ‘mendengar’ pikiran kita sendiri saja rasanya sulit! Suasana hening ketika anak tidur, meski tidak lama, menjadi sesuatu yang berharga untuk kita.

4. Bisa tidur tenang tanpa gangguan semalaman
Tidak bisa dipungkiri setelah punya anak, apalagi jika masih berusia bayi dan balita, rasanya hampir tidak mungkin bisa tidur semalaman tanpa terbangun. Sedang asyik tidur dan kelonan dengan suami, eh, adik bayi nangis minta disusui atau sang kakak ingin ke kamar mandi.

5. Cuma bawa hand bag kecil waktu bepergian
Dulu waktu lajang kita percaya diri pergi seharian hanya dengan tas kecil berisi dompet dan telepon genggam. Untuk traveling beberapa hari pun kita cukup membawa beberapa potong baju saja di carrier. Ringkas!

Tetapi, setelah punya anak, tas barang bawaan untuk bepergian pun jadi beranak-pinak! Mau pergi ke mal saja barang bawaannya lengkap dari popok, snack atau botol susu, stroller, baju ganti untuk anak dan ibu, dan lain sebagainya. Apalagi kalau keluar kota atau mudik, wah, rasanya barang yang dibawa sudah kayak mau pindahan!

6. Pergi dadakan
Waktu masih melajang atau belum punya anak, ada ajakan untuk hang out dadakan atau ngebolang ke luar kota tanpa itinerary bisa dilakukan. Sesudah punya anak, ada banyak hal yang ibu harus pikirkan dengan matang sebelum pergi, dari mulai mencari akomodasi dan destinasi wisata yang kids friendly, riset cuaca di kota tujuan, dan lain sebagainya. Mau pergi di dalam kota saja ibu pasti sudah merencanakan bagaimana mobilisasi dan bawaan yang perlu dibawa, kan?

7. Binge watching namatin series dalam sehari
Binge watching biasanya jadi salah satu aktivitas favorit di kala weekend. Apalagi kalau series-nya seru dan bikin penasaran, kita pasti nggak sabar pengen nonton satu season langsung! Namatin TV series dengan belasan episode dalam periode 1-2 hari? Bisa tuh! Tapi setelah punya anak, kok, sulit ya? Menuntaskan satu episode saja bisa makan waktu beberapa hari.

Itu adalah tujuh hal yang bisanya dirindukan ibu setelah punya anak. Tenang saja, Bunda, in a blink of an eye anak-anak akan tumbuh dewasa! Akan ada masanya hal-hal yang kini Bunda kangenin bisa dilakukan lagi dengan bebas. Selain tujuh hal di atas, apa lagi, nih, yang Bunda rindu lakukan setelah punya anak?

Laras Larasati

4 Likes

Ijin submit Roleplay Challenge Peserta
#JikaIbuMenjadi Freelance Writer

Aku buatnya di Google Docs bu, jadi sila baca dari tautan ini ya. Senang sekali jika ibu bisa memberi feedback. Terima kasih.

2 Likes

Selamat siang Buibu, izin submit tugas roleplay ya.
https://www.instagram.com/p/CoESIR2PQeF/?igshid=OGQ2MjdiOTE=

Mohon feedback nya.

Regards,
Jehan

3 Likes

Hi Bu @nadiasarahw
Berikut tautan tugas yang sudah saya buat, ya.
Annisa Dwinda F - https://docs.google.com/document/d/1HpC_9vkx8rtvmeBvfN6Csg-osCsED6yFddCh2Wv7jdQ/edit?usp=sharing

Silakan dicek ya, Bu. Terima kasih.

Regards,
Annisa :blush:

1 Like

Aku adalah Ibu

Pukul 04.30 adzan subuh berkumandang, bergegas badan ini segera menggerakkan diri untuk bangun jangan sampai terlena dengan sisa kantuk yang akan sangat nikmat jika dilanjutkan untuk kembali terlelap. Selesai sholat subuh yang biasanya tak pernah lupa untuk berdoa dan meminta segala keinginan untuk diriku yang banyak mau ini namun saat ini tidak seperti biasanya aku hanya terdiam menatap sajadah dengan pandangan kosong. Aku berbicara pada diriku sebagai Aku.
Assalamualaikum diri, mumpung anak - anak libur sekolah dan masih tidur, aku ingin bicara sejenak karena sudah lama sekali aku tidak memperhatikan aku.
Tidak terasa ya sudah 10 tahun aku jadi ibu. Berbagai macam gejolak sudah dilalui. Setelah punya anak aku merasa berubah total. Segala mimpi, cita - cita, karir sudah bukan menjadi prioritas utama lagi. Karena sudah terlalu lelah fisik, hati, dan pikiran. Yang penting adalah bertahan untuk selalu waras.
Terimakasih ya tubuh untuk mampu melewati masa menstruasi yang gejalanya susah ditebak, masa kehamilan yang berbeda - beda tetapi bisa beradaptasi dengan baik, masa persalinan dimana tubuh dengan kuasa Allah mampu menhadirkan kehidupan baru dan terimakasih juga untuk masa menyusui yang melelahkan tapi sekaligus menyenangkan.
Terimakasih telinga sudah mampu menyaring kata - kata mana yang pantas didengar atau tidak sehingga hati tidak tersakiti. Karena menjadi ibu tidak lepas dari sawang sinawang. Sudahlah aku ibu yang sempurna tidak perlu membandingkan dengan ibu lain. Toh anak tidak minat untuk ganti ibu kan?
Terimakasih mulut karena sudah menjaga lisan untuk tidak membalas ucapan - ucapan mereka yang tidak perlu.
Terimkasih seluruh anggota tubuhku karena sudah membantuku menajalani setiap fase kehidupan.
Memang setelah menjadi ibu aku tersadar ternyata jadi ibu itu susah, berat tapi tidak tahu kenapa seperti ada kekuatan dan keikhlasan luar biasa. Terkadang seperti kehilangan jati diri, kepentingan pribadi pun terlupakan, dan berusaha untuk selalu menekan ego. Lelah? Sangat, sangat lelah. Tapi ketika melihat bagaimana anak sangat bergantung, dan mendengar akulah yang dipanggil pertama saat merasa takut, sedih, senang, disitulah aku merasa akulah dunianya.
Kadangkala aku rindu dengan aku yang sebelum jadi ibu. Aku kehilangan aku yang dulu. Sekarang setelah menjadi ibu, apapun yang aku lakukan, anak menjadi pertimbangan utama.
Aku sadar aku yang memilih menjadi ibu, aku yang dengan sadar ingin memiliki keturunan dan aku harus bergerak. Bergerak bukan untuk kembali ke aku yang dulu tapi bergerak mencari mimpi karena aku sendiri sudah lupa apa itu mimpi, apa cita - citaku, apa harapanku. Selama ini aku menaruh harapan besar kepada anak - anakku. Sepertinya perlu digeser pola pikirku. Aku ya aku, anakku ya anakku. Saatnya aku ingin menaruh harapanku pada diriku sendiri, ingin menjadi apa aku ini.

1 Like

Halo Ibu @nadiasarahw ijin share Challenge roleplay ya :slight_smile:
mohon feedbacknya. terimakasih.

warm regards,
ayuqadryani

2 Likes